Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

"TRADISI KUPATAN/KETUPAT"

"Tradisi Kupatan" berawal dari "Tradisi" Wali Songo. 
 
 

"Ketupat" atau "tradisi" Jawa-nya "Kupatan" bukan hanya sebuah "Tradisi" Lebaran dengan menghidangkan "ketupat", sejenis makanan atau beras yang dimasak dan dibungkus daun janur berbentuk prisma maupun segi empat. Sebab, "Kupatan" memiliki makna dan filososi mendalam.

Dari sisi sejarah,
"Tradisi Kupatan"  berangkat dari upaya-upaya Wali Songo memasukkan ajaran Islam. Karena zaman dulu orang Jawa selalu menggunakan simbol-simbol tertentu, akhirnya para Walisongo memanfaatkan cara tersebut. "Tradisi Kupatan" akhirnya menggunakan simbol janur atau daun kelapa muda berwarna kuning”.

Dari sisi bahasa, "Kupat" berarti mengaku lepat atau mengakui kesalahan. Bertepatan dengan momen Lebaran, "Kupat" mengusung semangat saling memaafkan, semangat taubat pada Allah, dan sesama manusia. Dengan harapan, tidak akan lagi menodai dengan kesalahan di masa depan. ''Kupat" dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari kafi. Yakni, kuffat yang berarti sudah cukup harapan".

Dengan berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan, lalu Lebaran 1 syawal, dan dilanjutkan dengan puasa sunnah enam hari Syawal, maka orang-orang yang kuffat merasa cukup ibadahnya. Apalagi, berdasarkan hadis riwayat Imam Muslich bahwa ibadah tersebut sama dengan berpuasa satu tahun lamanya. ''Karena itulah, kuffat berarti orang-orang yang merasa cukup".

Terlebih, ditambah lagi dengan "Tradisi" silaturahim selama sepekan penuh pada kerabat dan masyarakat sekitar. Sehingga,
"Tradisi Kupatan" benar-benar dirasa lengkap.

Sedang dari sisi penyimbolan, dipilihnya janur karena janur biasa digunakan masyarakat Jawa 
dalam suasana suka cita. Umumnya, dipasang saat ada pesta pernikahan atau momen menggembirakan lain. Janur dalam bahasa Arab berasal dari kata Jaa Nur atau telah datang cahaya. Sebuah harapan cahaya menuju rahmat Allah, sehingga terwujud negeri yang makmur dan penuh berkah.

Sedang isinya, dipilih beras baik-baik yang dimasak jadi satu sehingga membentuk gumpalan beras yang sangat kempel. Ini pun memiliki makna tersendiri, yakni makna kebersamaan dan kemakmuran. ''Harapan para Wali Songo dulu,
"Tradisi Kupatan" ini bukan sebuah formalitas, tapi menjadi semangat kebersamaan umat".

Selain itu, biasanya "Kupatan" dimaknai dengan potongan miring sebagai simbol perempuan. Potongan "Kupat" miring tersebut lazim disandingkan dengan lepet berbahan beras ketan dengan bentuk lonjong sebagai simbol laki-laki. ''Artinya, pasangan suami istri juga harus selalu hidup rukun dan bersanding".

Dalam perjalanan, para kiai dan ulama menjadikan "Tradisi Kupatan" untuk menyampaikan pesan persatuan dan silaturahim. Ajakan tersebut, tak perlu sulit-sulit dengan himbauan lisan, tapi cukup dengan simbol-simbol. Sehingga, ajaran agama menjadi tidak asing bagi umat. ''Dengan menggunakan simbol yang melekat di kehidupan sehari-hari, ajaran agama bukan lagi hal menakutkan. Karena alat perantaranya telah melekat di hati".

Bagaimana dengan sandingan sayur "Kupat", apa mengandung makna tertentu juga? Disinggung soal itu, Marzuki menandaskan sayur pendamping "Kupat" hanyalah selera lidah masyarakat. Tidak ada makna khusus karena biasanya sayur pendamping "Kupat" disesuaikan dengan masakan khas daerah masing-masing. 
 
Kesempurnaan dan kesucian diri yang juga dilambangkan dengan isi "Kupat" yang berisi beras (segenggam beras) dan karena butir-butir beras tadi saling menyatu dalam selongsong janur dan rela direbus sampai matang, masak, maka jadilah sebuah makanan yang mengenyangkan dan enak dimakan. Ini adalah sebuah simbol dari persamaan juga kebersamaan persatuan dan kesatuan, dimana yang demikian itu merupakan seuntai pesan moral terhadap umat agar sama-sama rela untuk menjalin persatuan dan kesatuan sesama umat, untuk diri pribadi, lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara.

Namun sedemikian itu, meski sudah menjadi sebuah "Tradisi" turun temurun dan terus dilakukan, juga tak jarang muncul sebuah polemik di kalangan umat Muslim, dimana ada juga yang menganggap sebuah "Tradisi" tersebut sebagai Bid’ah dan sesat, dikarenakan termasuk mengada-ada dalam masalah ibadah. Setelah bulan suci Ramadhan, dan memasuki Syawal (1 Syawal/Idul Fitri) maka pada saat itu seluruh kaum Muslim diharamkan untuk berpuasa, terkecuali ketika mulai pada hari ke 2 bulan Syawal, baru ada anjuran (sunnah muakkad) untuk melakukan puasa selama enam hari, berturut-turut sejak tanggal 2 Syawal  ataupun terpisah, selama masih dalam bulan Syawal, sebagaimana sabda Nabi SAW : 


مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ. رواه مسلم (الجامع الصغير ص 307)
 

Artinya :
“Barang siapa berpuasa Ramadlan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka yang demikian itu seperti puasa setahun”. (HR. Imam Muslim)
 
Kemudian setelah puasa Syawal, tidak ada anjuran atau tuntutan melakukan dan menyelenggarakan "Tradisi" tertentu (disini yang dimaksudkan adalah "Kupatan"), maka barang siapa melakukan "Tradisi" tertentu atau "Tradisi" riyoyo kupat pada tanggal 8 Syawal, maka hal itu dianggap Bid’ah (suatu hal yang baru). Kenapa demikian, dikarenakan dianggap suatu hal yang dulunya (zaman Rasul dan para sahabat) tidak pernah melakukan dan tidak pernah diajarkan. Inilah yang kemudian menjadi bermunculan multipersepsi di kalangan umat Islam, antara yang Bid’ah dan tidak, antara yang melakukan dan tidak mau melakukan. Namun tidaklah ini menjadi sebuah kerumitan dan menjanggal kita, coba kita pecahkan dan kita pikirkan dari paradigma bahasa yakni interpretasi dari makna Bid’ah itu sendiri, juga bagaimana status amaliyah dari "Tradisi" riyoyo "Kupatan" itu sendiri.


Bid’ah secara bahasa berarti membuat sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 117 yang artinya :

“Allah Pencipta langit dan bumi, ...”. Yang dimaksud disini adalah mencipta (membuat) tanpa ada contoh sebelumnya. 

Juga firman-Nya dalam Q.S  Al-Ahqaf ayat 9 yang artinya : “Katakanlah: ‘Aku bukanlah yang membuat bid’ah di antara Rasul-rasul’ ”. Maksudnya adalah aku bukan Rasul pertama yang diutus ke dunia ini. Sedangkan ada yang mendefinisikan Bid’ah secara mutlak, yakni segala hal yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Sesuatu yang ada kaitannya dengan ibadah dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi adalah Bid’ah dan haram untuk dilakukan. Oleh karena itulah "Tradisi Kupatan" ini dikategorikan sebagai ibadah madlah (ritual murni) yang terikat dengan tata cara yang didasarkan pada tauqif  (Jawa; piwulang) dari Nabi, dan hal itu dianggap mengada-ada dan itu adalah bid’ah, sedangkan setiap bid’ah adalah dlalalah. Sabda Nabi SAW:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. رواه البيهقي عن عائشة (الجامع الصغير ص 296)

Artinya :

“Barang siapa mengada-ada di dalam urusan agama kita ini, sesuatu yang tidak bersumber darinya, maka hal itu ditolak” (HR. Imam Baihaqi) 
Dan sabda Nabi SAW. : 

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ ذَلِكَ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي. أَيْ بَاعِدُوْا وَاْحذَرُوْا اْلأَخْذَ بِاْلأُمُوْرِ الْمُحْدَثَةِ فِي الدِّيْنِ. (المجالس السنية شرح الأربعين النووية ص 87)

Artinya :

“Jauhilah hal-hal baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya hal tersebut adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) yakni kamu sekalian harus menjauhi dan mewaspadai perkara-perkara baru dalam agama.

Namun selain daripada itu, ada lagi yang kemudian pendapat mengklasifikasikan bid’ah itu menjadi dua bagian, yakni bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyi’ah (buruk), dan berpendapat bahwasanya "Tradisi kupatan" itu adalah dikategorikan sebagai ibadah ghairu mahdlah (tidak murni) yang yang perintahnya ada, namun dalam hal pelaksanaannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi, maka adanya "Tradisi" itu dianggap amrun mustahsan (sesuatu yang dianggap baik). Penjelasan ini bukan berarti mengingkari dari pada dua hadits yang telah disebutkan di atas tadi, akan tetapi mencoba memahami hadits tersebut dengan paradigma yang lebih luas, dalam artian tidaklah semua bid’ah itu dlalalah (sesat), namun ada juga bid’ah yang hasanah (bagus) yaitu suatu hal baru yang tidak merusak akidah dan tidak menyimpang dari syari’at, sebagaimana dijelaskan dalam kitabnya Syaikh As-Sayyid Muhammad Alwi “Al-Ihtifal bidzikro maulidin Nabi” : 
قَالَ اْلإِمَامُ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَا أَحْدَثَ وَخَالَفَ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعًا أَوْ أَثَرًا فَهُوَ الْبِدْعَةُ الضَّالَّةُ، وَمَا أَحْدَثَ مِنَ الْخَيْرِ وَلَمْ يُخَالِفْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ الْمَحْمُوْدُ. 


Artinya :
“Imam Syafi’i berpendapat bahwa amalan apa saja yang baru diadakan dan amalan itu jelas menyimpang dari kitabullah, sunnah Rasul, ijma’us shahabah atau atsaratut tabi’in, itulah yang dikategorikan bid’ah dlalalah/sesat atau tercela. Sedangkan amalan baik yang baru diadakan dan tidak menyimpang dari salah satu dari empat pedoman di atas, maka hal tersebut termasuk hal yang terpuji”.

Juga dalam kitab yang sama beliau menyimpulkan pendapat Imam Syafi’i tersebut sebagai berikut : 

فَكُلُّ خَيْرٍ تَشْتَمِلُهُ اْلأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ وَلَمْ يُقْصَدْ بِإِحْدَاثِهِ مُخَالَفَةُ الشَّرِيْعَةِ وَلَمْ يَشْتَمِلْ عَلَى مُنْكَرٍ فَهُوَ مِنَ الدِّيْنِ.

Artinya :

“Jadi setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil syar’i dan mengadakannya tidak ada maksud menyimpang dari aturan syari’at serta tidak mengandung kemunkaran, maka hal itu termasuk “ad-din” (urusan agama)”.


Oleh karena itu, wahai sahabat/i yang dimuliakan Allah semuanya, Aamiin, menempatkan hukum riyoyo "Kupat" itu tidaklah dengan seenaknya saja, harus dilihat dari substansi masalahnya, yaitu ajaran silaturrahim, saling memaafkan juga ajaran tentang pemberian sodaqoh atau sedekah, yang mana hal tersebut perintahnya ada dalam dalil syar’i, namun daripada itu teknis dalam hal pelaksanaannya bisa dilakukan dengan beragam cara.
Dalil syar’i tentang silaturrahim antara lain : Hadits Riwayat Tirmidzi : 

أَسْرَعُ الْخَيْرِ ثَوَابًا الْبِرُّ وِصِلَةُ الرَّحِمِ. رواه الترمذي عن عائشة

Artinya :
“Amal kebajikan yang paling cepat mendapatkan pahala adalah ketaatan dan silaturrahim”.

Dalil syar’i tentang memberikan maaf antara lain QS. An-Nur 22 : 

وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْا أَلاَ تُحِبُّوْنَ أَنْ يَغْفِرَ اللهُ لَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ. النور : 22.

Artinya :

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin Allah akan mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. An-Nur : 22)
Dalil syar’i tentang memberikan sedekah antara lain : 

  تَصَدَّقُوْا وَلَوْ بِتَمْرَةٍ. رواه ابن المبارك 

Artinya :
“Bersedakahlah kamu, meskipun hanya berupa sebutir kurma” (HR. Ibnu Mubarak).



Itulah, sedikit dari beberapa pemaparan tentang "Tradisi Kupatan", dimana "Tradisi Kupatan" itu tidak bisa dengan begitu saja disebut sebagai bid’ah atau tambahan dalam beribadah, melainkan "Tradisi Kupatan" adalah budaya lokal dimana budaya tersebut memiliki keterkaitan dengan syari’at Islam dan karena itulah "Kupatan" tidak bisa dihukumi sebagai penyimpangan, apalagi dihukumi sebagai tindakan dlalalah (sesat).
 
Sumber:
1.  fendi-tw.blogspot.com/2008/10/tradisi-kupatan.html
2.  pekansyawalan.blogspot.com/p/blog-page_4.html
3.  zaynunaddin.blogspot.com › Religi
4.  digito10 blogspot.com/Sekedar-Cemilan-Hidup:Kupatan-Tradisi....
5.  mushollarapi.blogspot.com/Musholla-RAPI-Online:Agustus-2012....
6.  zainunaddin.blogspot.com/Memahami-Hakikat-Kupatan....
7.  mtsmaarifkarangan.blogspot.com/Tradisi-Kupatan....

Sabtu, 23 Februari 2013

"LOMBA PANJAT POHON PINANG"

"Panjat pinang" adalah salah satu "lomba" tradisional yang populer pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia".


Setiap menyambut hari kemerdekaan atau 17 Agustusan di kampung atau desa kita sering sekali mengadakan "lomba panjat pinang" dan hampir seluruh masyarakat ini Indonesia selalu mengikuti "lomba panjat pinang". "Panjat pinang" itu sendiri adalah salah satu jenis per"lomba"an tradisional yang populer pada saat perayaan hari kemerdekaan Indonesia. 

CARA PERMAINAN.

Ternyata "Panjat Pinang" ini juga punya aturan sendiri lo dalam permainannya.  Sebuah permainan yang memadukan kreatifitas, kesabaran, ketekunan, kerja sama, gotong royong, dan semangat keceriaan !

Sebuah "pohon pinang" yang tinggi dan batangnya dilumuri pelumas yang telah disiapkan oleh panitia per"lomba"an. Di bagian atas "pohon" tersebut, disiapkan berbagai hadiah menarik, seperti baju, sandal, boneka, kipas angin, dan lain-lain.  Para peserta ber"lomba" untuk mendapatkan hadiah-hadiah tersebut dengan cara memanjat batang "pohon". Kadang satu "pohon" di"panjat" oleh sekelompok grup yang terdiri dari lima sampai enam orang. hingga yang paling atas berhasil mendapatkan hadiah yang diinginkan. seru sekali ya. Oleh karena batang "pohon" tersebut licin (karena telah diberi pelumas), para pemanjat batang "pohon" sering kali jatuh. Akal dan kerja sama para peserta untuk memanjat batang "pohon" inilah yang biasanya berhasil mengatasi licinnya batang "pohon", dan menjadi atraksi menarik bagi para penonton.

SEJARAH.

"Panjat pinang" berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. "lomba panjat pinang" diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain.yang mengikuti "lomba" ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena di kalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. Sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Bisa dibayangkan kondisi pada masa penjajahan, sementara warga negara Indonesia bersusah payah dengan berlumuran keringat, para Penjajah Belanda dan keluarganya tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Bangsa Indonesia. Dan mungkin saat ini, ketika perayaan 17 Agustus, mereka masih tertawa terbahak bahak, menyaksikan bahwa budaya yang mereka buat dengan tujuan melecehkan Bangsa Indonesia, ternyata justru dilestarikan.

Saat ini bentuk permainan ini masih bertahan hingga sekarang, ada pihak yang tidak mempermasalahkan sejarah permainan ini, tapi ada juga yang tidak setuju dengan budaya ini. Jika sejarah "panjat pinang" begitu menyakitkan mengapa harus dilestarikan. Ada beberapa kontroversi seputar "Panjat Pinang". Sementara sebagian besar rakyat Indonesia percaya itu adalah tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk bekerja-sama dan bekerja keras dalam mencapai tujuan mereka, ada orang-orang yang mengatakan "Panjat Pinang" adalah tampilan merendahkan yang mengirimkan salah satu jenis pesan untuk pemuda Indonesia. Ada juga isu lingkungan mengurangi sejumlah besar kacang-"pohon" untuk suatu perayaan hedonistik. Apapun kontroversi yang ada "Panjat Pinang" selalu menjadi tradisi yang unik di negara Indonesia.

"PANJAT PINANG" DALAM BUDAYA TIONGHOA.

Prosesi "Panjat Pinang" ini memang populer di Fujian, Guangdong dan Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu . Ini dapat dimengerti dari kondisi geografis di kawasan itu yang beriklim sub-tropis, yang masih memungkinkan "pinang" atau kelapa tumbuh dan hidup. Perayaan ini tercatat pertama kali pada masa dinasti Ming. Lumrah disebut sebagai "qiang-gu". Namun pada masa dinasti Qing, permainan "Panjat Pinang" ini pernah dilarang pemerintah karena sering timbul korban jiwa. Sewaktu Taiwan berada di bawah pendudukan Jepang, "Panjat Pinang" mulai dipraktekkan lagi di beberapa tempat di Taiwan berkaitan dengan perayaan festival hantu. "Panjat Pinang" masih dijadikan satu permainan tradisi di berbagai lokasi di Taiwan. Tata cara permainan lebih kurang sama, dilakukan beregu, dengan banyak hadiah digantungkan di atas. Namun bedanya tinggi yang harus dipanjat bukan hanya setinggi "pohon pinang", namun telah berevolusi menjadi satu bangunan dari "pohon pinang" dan kayu-kayu yang puncaknya bisa sampai 3-4 tingkat bangunan gedung. Untuk meraih juara pertama, setiap regu harus memanjat sampai puncak untuk menurunkan gulungan merah yang dikaitkan di sana.

PRO DAN KONTRA.

Permainan "Panjat Pinang" yang begitu asik bagi mayoritas penduduk Indonesia, ternyata juga mengundang banayak pro dan kontra di kalangan masyarakat. Di satu sisi, ada pihak yang mendukung dan setuju banget dengan permainan ini. tapi di sisi lain banyak  juga  yang menentang adanya permainan "Panjat Pinang"  ini. Tentunya kedua sisi tersebut punya pemikiran yang jauh berbeda.

Beberapa orang berpikir bahwa "Panjat Pinang" tentunya suatu warisan budaya yang luhur, penuh keharmonisan, penuh sukacita dan penuh sejarah. "Panjat Pinang" mempunyai nilai luhur yang patut dilestarikan dan diwariskan sampai generasi ke generasi. karena di sini lah bangsa Indonesia menanamkan nila luhur dalam per"lomba"an ini seperti: kerja keras, pantang menyerah, kerja kelompok (team work), serta gotong royong.

Memang terjadi pro dan kontra mengenai per"lomba"an yang satu ini. satu pihak berpendapat bahwa sebaiknya per"lomba"an ini dihentikan karena dianggap mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pihak lain berpikir ada nilai luhur dalam per"lomba"an ini seperti: kerja keras, pantang menyerah, kerja kelompok/ gotong royong. Meski begitu, dibalik pro dan kontra keberadaan tradisi ini, "Panjat Pinang" telah mendarah daging dan menjadi hiburan istimewa saat hari raya kemerdekaan.

Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Panjat_pinang
2. vymubaya.wordpress.com/tag/panjat-pinang/
3. kidalnarsis.blogspot.com/.../panjat-pinang-sejarah-kelam-rakyat_17.html
4. www.republika.co.id/berita/shortlink/68830
5. arfurakingdom.blogspot.com
6. mr-astroboy.artician.com
7. flpjatim.wordpress.com

Sabtu, 02 Februari 2013

"BAHASA (INDONESIA) GAUL - ANAK MUDA"

"Kamus "Bahasa Gaul" terbaru, saat ini semakin banyak dicari oleh para "muda" dan mudi di "Indonesia", mungkin beberapa saat lalu sempat menjadi trend aktif diakibatkan dari obrolan dari salah satu pengguna twitter".


"BAHASA INDONESIA GAUL".

Beberapa makna yang bisa kita cerna ialah kalimat tersebut disederhanakan seperti halnya seorang balita baru bisa bicara, dimana setiap kata itu ada yang dikurangi dan juga diubah menjadi tidak ada artinya sama sekali.

Jika dicermati kembali mungkin kamus "Bahasa Gaul" hanya sebatas humor semata bukan menjadi kebiasaan di masyarakat, sebab apabila dipergunakan dalam lingkungan formal kemungkinan seperti mengejek bahkan disangka orang gila tidak bisa berbicara.

Banyak "anak muda" yang selalu mengikuti perkembangan masa kini dengan mengubah "Bahasa Indonesia" menjadi "Bahasa" yang sedikit berlebihan atau lebih tepatnya bisa disebut sebagai "Bahasa Gaul" bagi para ABG saat ini. Mulai dari penulisan huruf-huruf maupun angka-angka yang diplesetkan menjadi sedemikian rupa, sehingga terasa aneh, berlebihan, konyol, dan lucu. Susunan huruf-huruf dan angka-angka itu menjadi tidak sesuai dengan aturan baku EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) sebagai pedoman ber"bahasa Indonesia" yang baik dan benar. Namun bagi "anak muda" di masa kini, kalau tidak mengikuti "bahasa" yang mereka anggap lucu itu akan dianggap sebagai "anak muda" yang tidak "gaul". Mungkin bagi mereka, "Bahasa Gaul" di sini merupakan seni dan kreatifitas bagi "anak muda" saat ini.

Berikut beberapa contoh "Bahasa Gaul" yang sering digunakan oleh "anak muda":

1. Afgan
Tahu kan siapa Afgan? Pernah dengar lagunya yang judulnya ‘Sadis’ ? Istilah ini artinya : bisa nego tapi jangan sadis!

2. Alay
Banyak versi yang menyebutkan. Mulai dari "anak" lebay, "anak" kelayapan, namun yang sering disebut adalah "anak" layangan. Konon, istilah ini digunakan untuk menyebut "anak"-"anak" yang sering nongol di musik tv.

3. Bais
Bais berarti habis, cuma dibolak-balik saja susunan hurufnya. “Pulsa aku bais nih Beib. Telpon aku donggggg”

4. Cukstaw
Kata ini adalah singkatan dari cukup tahu. Oke, cukstaw!  “Oh, gitu ya? Fine! Cukstaw dehh!”

5. Eaa
Di Twitter, pasti lo sering liat hashtag kayak gini. Biasanya #eaaa dipakai untuk nge-tweet kata-kata gombal. Kata ini diciptakan dan dipopulerkan oleh Tukul Arwana, biasanya diucapkan pas Tukul melakukan gerakan yang aneh-aneh.

6. Elo Gue End
Kalimat ini dipopulerkan Wendy Cagur dalam tayangan Opera Van Java. Kata-kata ini sempat jadi Trending Topic di Twitter. Kalimat ini digunakan just for fun saja.

7. Fudul
Kurang lebih artinya sama kayak stalking atau kepo. Digunakan buat menunjuk sifat orang yang want to know something sampai ngorek-ngorek informasi dari mana saja, termasuk jejaring sosial.

8. Galau
Untuk yang satu ini, temen gue sampe ada yang dinobatkan sebagai raja galau. Kata galau sebenarnya termasuk dalam "Bahasa Indonesia" baku yang terdaftar di kamus, artinya perasaan kacau ngga karuan, resah, bimbang. Tapi ntah siapa yang mulai. Kata galau mendadak populer di jejaring sosial. Sering muncul dengan #galau atau yang berbau galau kayak #galaucity, #galaugombal, #lagugalau.

9. Gengges
Berasal dari kata ganggu yang diubah dikit, dikasih imbuhan *-es* di belakangnya. “Gw unfollow ah, soalnya gengges, fotonya sok imut.” Waduhh??

10. Hoax
Artinya berita palsu, diambil dari kata yang sama dalam "Bahasa" Inggris yang artinya cerita bohong. Bisa juga di film Amerika berjudul The Hoax (2006) yang dianggap mengandung kebohongan. Awalnya cuma pengguna Internet di Amerika saja yang pakai istilah Hoax, tapi lama-lama kata ini jadi populer di seluruh dunia

11. Jutek
Sering banget dengar ini. Kata ini jadi kata umum yang dipakai buat menunjuk orang yang judes, galak dan nggak ramah.

12. Kepo
Berasal dari kata Kaypoh. Bahasa Hokkien yang banyak dipakai di Singapura dan sekitarnya. Sama seperti fudul, kepo berarti ingin tahu, mencampuri urusan orang lain, dan ngga bisa diam. Kata ini punya konotasi yang rada negatif. ” Dia udah putus belom sama sih sama ceweknya?” ”Iiih, kepo banget si lo!”

13. Kicep
Artinya diam atau mematung biasanya karena malu atau ngga tau apa yang mesti dilakuin. “Langsung kicep gw begitu ngeliat soal ulangan Fisika…”

14. Lebeh
Perkembangan dari kata lebay yang juga merupakan "Bahasa" populer sejak sekitar tahun 2006, yang artinya berlebihan. “Ngga ketemu cowok gw sehari rasanya nggak ketemu setahun” ”Iiih, lebeh lo!”

15. Mager
Singkatan dari kata males gerak. “Laper tapi mager.”

16. Menel
Ditujukan utk perilaku centil buat menarik perhatian orang yang disukai.

17. Meper
Artinya mengelapkan tangan yang kotor atau terkena sesuatu secara diam-diam, bisa ke tembok, baju orang lain dan lain-lain.

18. Narsis
Bukan istilah baru sih. Tapi mungkin banyak yang belum tahu, narsis juga punya legenda lho. Berasal dari cerita Yunani, ada seorang lelaki tampan bernama Narcissus yang menolak cinta seorang cewek bernama Echo yg kemudian patah hati dan mengutuk Narcissus buat jatuh cinta dengan bayangannya sendiri di kolam. Sekarang, kata narsis digunakan buat menggambarkan orang yang terlalu suka sama diri sendiri, salah satu tandanya adalah hobi banget foto sendiri. Hmmmm....

19. Oretz
Artinya oke, berasal dari "Bahasa" Inggrs, “all right” yang diplesetin penulisan maupun pengucapannya.

20. Palbis
Singkatan dari kata-kata “PALING BISA.” Cobaan terberat itu saat ngeliat tweet kamu sama dia..””Yelah, palbis lo, haha!”

21. Pecah
Istilah ini biasanya digunakan buat mengomentari hal-hal yang keren, gokil, heboh. “Rugi lo ngga dateng, pecah banget acaranya semalem!”

22. Peres
Artinya palsu, bohong, ngga tulus.

23. PHP
Istilah ini diperuntukkan bagi orang yang suka memberikan harapan palsu kepada orang lain. PHP = Pemberi Harapan Palsu

24. Prikitiew
Jangan ditanya deh. Istilah ini sering kita dengar lewat lawakan si Sule. Penggunaannya hampir mirip dengan “cieee” atau “ihiiy”.

25. Pundung
Berasal dari "Bahasa" Sunda, artinya tersinggung, ngambek dan kesel.

26. Rempong
Berarti ribet, repot atau rese. “Ngapain sih lo telepon gue tengah malem gini? Rempong deh!”

27. Selon
Bisa diartikan santai, slow, pelan-pelan

28. Sokil Gob
Plesetan dari kata “Gokil, sob!” Artinya sama saja kayak gokil, yaitu gila tapi dalam artian positif. Biasanya dipakai buat menggambarkan sesuatu yang heboh, lucu atau unik. Sedangkan ‘Sob’ adalah kebalikan dari kata bos, yang biasa digunakan sebagai pangggilan akrab untuk seseorang.

29. Spupet
Plesetan dari kata sepupu.

30. Ucul
Berasal dari kata lucu, cuma dibolak - balik.

31. Unyu
Kata ini berasal dari kata “Oh no”, yang sengaja diplesetin jadi Onyo biar terkesan lucu. Ada juga yang bilang kalau unyu berarti "anak" anjing dari "Bahasa" Sanskerta. Yang jelas, kata ini sering dipakai untuk menunjukkan hal-hal yang lucu, imut, ngegemesin.

32. Yalsi
Ucapkan kata yalsi berulang-ulang, kata baru apa yang kita dengar? Yalsi merupakan plesetan dari kata sial. “Omongan ngga nyambung gara-gara BBM pending, yalsi!” 

Disamping kata-kata di atas, sesuai perkembangannya. juga masih banyak kata-kata dari  "Bahasa Gaul" yang tidak kalah ngetrend yang dipakai "anak muda" dalam per"gaul"annya sehari-hari, yakni:

Ciyus , Miapah dan Enelan bisa dikatakan sedang menjadi trend pada saat ini. Tak jarang kita menemui kata – kata seperti ini di stasus orang di jejaring social seperti facebook dan twitter. "Bahasa" per"gaul"an ini entah mengapa bisa menjadi trend di "Indonesia". Bahkan ada yang terang – terangan benar – benar benci dengan "Bahasa" per"gaul"an ini. Seperti yang kita ketahui, "Indonesia" sedang marak – maraknya tentang alay. Apa itu alay ? Alay bisa dikatakan gaya yang berlebihan. Dan otomatis dikarenakan maraknya Alay di "Indonesia", entah darimana pula munculnya "Bahasa" alay. 

Ciyus , Miapah dan Enelan yang sering keluar di status – status yang dibuat para "anak muda" di jejaring sosial ini merupakan contoh dari "Bahasa" alay. Sebelum Ciyus , Miapah dan Enelan ngetrend pada saat ini , sebelumnya telah sempat trend juga menulis kata yang mencampur antara huruf , angka dan tanda baca yang tidak ketinggalan untuk bergabung seperti contoh nya : M3t_pgy 4££. . . .m3t b'r4kt!vT4$ bgì xg krja & sk£h . Bagi yang terbiasa sih mungkin bukan masalah, namun bagi yang tidak terbiasa malah pusing dalam membaca itu tulisan. Haha. 

Dengan model tulisan campuran antara huruf dan angka ditambah tanda baca yang belum benar hilang di dunia "anak muda" yang merasa paling "gaul" ini, sekarang timbul lagi trend baru yaitu Ciyus , Miapah dan Enelan. Benar – benar entah darimana ini bahasa dapat timbul. Ada yang bilang berasal dari fitri tropika , dikarenakan beliau merupakan comedian pertama yang menggunakan logat seperti balita sebagai candaan dan celotehannya. Ya memang sih , mungkin ada yang bilang kalo "Bahasa" alay ini kesannya imut dan lucu. Tapi yang tidak paham "Bahasa" ini bakalan mengalami kebingungan yang lumayan bingung. Bukannya menjawab pertanyaan si alay yang menggunakan "Bahasa" alay , namun malah hanya bengong saja sambil mikir dalam hati, ni mahluk ngomong apaan ya. Hahaha. 

Berikut ini merupakan beberapa contoh dan arti dari "Bahasa" alay :
Akooh : Aku 
Amaca : Ah masak? 
Angenamu : Kangen kamu 
Binun : Bingung 
Ca oong cih : Masa bohong sih? 
Cemungudh : Semangat 
Ciyus : Seriuss 
Cungguh : Sungguh 
Daboweh : Tidak boleh
Enelan : Beneran ?
Gudnyus : Good news 
Kiyim : Kirim 
Lahacia: Rahasia 
Maacih : Terima kasih 
Macama : Sama-sama 
Macapah : Sama siapa? 
Masya : Masak 
Miapah : Demi apa? 
Qmuh : Kamu 

Miapah selain berarti demi apa juga kadang bisa juga mempunyai arti seperti sumpe lo? yang sudah duluan ngetrend. Tak ketinggalan Nyoos yang dipakai untuk menyebutkan sesuatu yang dinilai cool, nyus, hebat dan sejenisnya. 

Yah bisa dikatakan "Bahasa" alay yang seperti Ciyus , Miapah dan Enelan ini seperti kalau "anak" balita baru sedang memulai fase untuk bisa bicara. Jadi ya cara bicara seolah – olah kalau cadel seperti cungguh pucing ih, maca ih dan sejenisnya. Demikianlah sedikit penjelasan dan beberapa contoh kata yang diambil dari kamus "Bahasa" alay. Cmoga qmuh ud4H ga binun ya. Xixixixi.

Jadi pada kesimpulannya arti ciyus bisa dijelaskan dengan kata lain , serius ?? Arti enelan adalah beneran atau bisa juga sumpe lo ? Arti miapah adalah demi apa ? yah , cemua telgantung calimatnya ya k4ks. cmoga qmuh cemungudh eaa . m3t b'r4kt!vT4$ , c4L@m cuKce$ eaa.. >,<
"BAHASA INDONESIA" YANG BENAR.

"Bahasa Indonesia" merupakan "Bahasa" nasional bagi bangsa "Indonesia". "Bahasa Indonesia" ini juga berfungsi sebagai alat komunikasi yang mempersatukan seluruh rakyat "Indonesia". Oleh karena itu, tidak semua orang dapat memahami "Bahasa" daerah setiap suku di "Indonesia", karena "Indonesia" beragam sukunya dan juga memiliki "Bahasa" daerah yang cukup banyak.
 
Masih banyak orang yang tidak mengerti menggunakan "Bahasa Indonesia" dengan baik dan benar, terutama di kalangan "anak muda". Di dalam per"gaul"an "anak muda" saat ini, cenderung tidak menggunakan "Bahasa Indonesia" yang benar, karena bagi mereka "Bahasa Indonesia" itu terlalu formal untuk dipakai sebagai "Bahasa" sehari-hari. Selain itu, "Bahasa Indonesia" juga sudah semakin merosot karena harus bersaing dengan "Bahasa" asing lainnya yaitu seperti "Bahasa" Inggris, Mandarin, dan Jepang. Banyak orang yang beranggapan bahwa "Bahasa Indonesia" itu lebih cocok digunakan pada saat sedang mengikuti acara-acara yang formal seperti saat berpidato dan menyampaikan ceramah. Bahkan bagi "anak muda" di masa kini, jika sudah pandai menguasai "Bahasa" asing lainnya, maka akan dianggap sebagai "anak muda" yang "gaul" dan pintar sehingga terlihat lebih keren ketika berbicara menggunakan "Bahasa" asing. Hal ini cukup memprihatinkan bagi bangsa "Indonesia". Jika dari "Bahasa Indonesia" saja kurang dibanggakan oleh rakyatnya, maka bagaimana bangsa "Indonesia" akan mengembangkan kekayaan lain yang dimilikinya.

Maka dari itu, untuk menjaga kelestarian dan kemurnian "Bahasa Indonesia", perlu adanya kerja sama antara rakyat serta pemimpin bangsa "Indonesia" ini. Jadi sebaiknya mulai sekarang mari kita membiasakan diri untuk menggunakan "Bahasa Indonesia" menjadi "Bahasa" sehari-hari yang dipakai. Jika kita bangga terhadap bangsa "Indonesia", pasti kita juga bangga terhadap "Bahasa" yang mempersatukan kita, yaitu "Bahasa Indonesia". Mari lestarikan "Bahasa Indonesia" di negeri tercinta ini. Jangan takut menjadi "anak muda" yang tidak "gaul" karena menggunakan "Bahasa Indonesia" sebagai bahasa sehari-hari, melainkan jadilah sosok "anak muda" yang bisa menjadi inspirasi bagi "anak muda" lainnya untuk mulai mencintai "Bahasa Indonesia". Melalui "Bahasa Indonesia" kita bisa menciptakan beragam karya seni apapun yang dapat dimengerti oleh semua kalangan masyarakat "Indonesia", baik dari yang usianya masih "muda" maupun yang sudah tua.

Sumber:
1. bahasa.kompasiana.com/.../bahasa-indonesia-vs-bahasa-gaul-anak-muda-496731.html
2. www.cyber4rt.com/.../arti-istilah-bahasa-gaul-terbaru-terlengkap.html
3. bg4ul.blogspot.com/2012/10/ciyus-miapah.html
4. www.ocimblog.com/2012/10/kamus-bahasa-gaul.html

Sabtu, 12 Januari 2013

"RATNA MUTU MANIKAM DI SEPANJANG KHATULISTIWA"


"Dunia pariwisata Indonesia juga akan bisa dengan bangga menggunakan kata-kata .. untaian RATNA "MUTU MANIKAM" di sepanjang ekuator atau "khatulistiwa".



Negara   kita terdiri    dari pulau-pulau yang banyaknya mencapai ribuan, bukan  lima ribu    pulau, bahkan bukan pula sepuluh ribuan pulau tetapi lebih dari itu. Dengan perhitungan terakhir nanti terhitung setelah dua tahun sejak sekarang, mungkin akan mencapai angka hanya di bawah 14000 pulau. Meskipun demikian Indonesia, yang meliputi wilayah berdaulat NKRI, masih merupakan sebuah negara kepulauan yang terbesar di dunia dengan gugusan pulau-pulaunya yang seperti digambarkan oleh para sastrawan. Seperti untaian ratna "mutu manikam" di sepanjang "khatulistiwa" , itulah kata-kata para pujangga yangmemuja kepulauan Nusantara.

Yang tidak banyak diketaui orang adalah fakta: benar-benar suatu kenyataan bahwa panjang pantai-pantai di seluruh pulau-pulau Indonesia itu 54716 – (limapuluh empat ribu tujuh ratus enam belas kilometer) lebih panjang dari panjang "khatulistiwa" yang hanya: 40.075,035.535 – dibulatkan 40075 (empat puluh ribu tujuh puluh lima) kilometer.

Menteri beberapa Departemen sebaiknya adalah personil yang bisa memimpin dan menjabat dan senantiasa berpikiran dengan jiwa bahari dan kelautan. Yang hanya memikirkan daratan saja, sementara dipinggirkan dahulu untuk setengah abad. Dengan demikian maka anggaran menuju pembangunan wilayah kelautan dapat ditingkatkan dengan maksimum.

Sekarang sampailah kita meninjau keadaan kekuatan bahari kita, di lautan. Panjang pantai seluruh kepulauan Nusantara yang ada sama dengan 54716 kilometer, sedang China hanya mempunyai 14500 kilometer, India mempunyai 7000 kilometer dan Amerika Serikat mempunyai 19924 kilometer.

Keberagaman budaya Indonesia adalah "mutu manikam" yang memperkaya peradaban Nusantara. Komitmen sosial perihal kekuatan keberagaman sesungguhnya mengikat kita untuk merekat kembali kebhinekaan Indonesia yang semakin luntur. Kekuatan yang selama ini terbukti berhasil menyatukan kita sejak negeri multi etnik bernama Republik Indonesia ini didirikan, yang kemerdekaannya dikumandangkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, di suatu pagi di bulan Ramadhan yang cerah.

Indonesia dari ujung Barat hingga Timur, Utara hingga Selatan adalah rangkaian keindahan demi keindahan tersebut sehingga dikenal dengan nama Zamrud "Khatulistiwa". Bahkan dalam bukunya Max Havelaar, Multatuli menyebut Indonesia sebagai “untaian ratna "mutu manikam” karena keelokannya.

Membicarakan tentang kecantikan alam Indonesia memang tiada pernah ada habisnya. Dalam dunia bahari, Indonesia memiliki taman laut yang sangat indah seperti di Bunaken, Wakatobi, dan Raja Ampat yang  merupakan jantung kekayaan terumbu karang dunia. Kawasan Raja Ampat memiliki lebih dari 1.070 jenis spesies ikan, 600 jenis spesies terumbu karang, dan 66 jenis molusca. Sedangkan Kepulauan Karibia hanya memiliki tidak lebih dari 70 jenis terumbu karang (sumber: dunialaut.com). Bukankah itu sebuah fakta yang sangat mengagumkan? Karena itu tak heran Raja Ampat menjadi surga bagi para diver dan menjadi salah satu spot diving kelas dunia yang paling diminati. 

Selain Kawasan Raja Ampat, Indonesia juga memiliki Laut Sulawesi, tempat ditemukannya mahluk-mahluk laut yang belum ditemukan sebelumnya, termasuk ditemukannya ikan Coelacanth yang diduga sudah punah 65 juta tahun lalu. Sedangkan di Danau Kakaban, Perairan Berau, Kalimantan Timur terdapat ribuan ubur-ubur tanpa sengat, Martigias papua, sehingga Anda dapat merasakan sensasi berenang dengan ubur-ubur. Di dunia ini hanya ada dua habitat ubur-ubur tersebut, yakni di Indonesia dan Republik Palau di Samudra Pasifik.

Dari dunia bawah laut bergeser sedikit ke jajaran pantai yang membentengi kepulauan Nusantara. Indonesia memiliki pantai dengan karakter yang sangat beragam, mulai pantai dengan pasir putih, pasir coklat, pasir hitam, hingga pantai berpasir pink seperti di Pink Beach Pulau Komodo.  Selain pasir warna-warni, ombak di pesisir pantai Indonesia sangatlah beragam. Ada pantai yang sangat tenang tanpa ombak hingga terlihat seperti danau, atau pantai dengan 7 gulungan ombak setinggi hampir 6 meter sehingga dikenal dengan nama “The 7 Giant Waves Wonder”. Pantai yang menjadi surga para peselancar tersebut adalah Pantai Plengkung di Banyuwangi yang juga disebut dengan nama “G-land”.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia jelas memiliki pulau-pulau yang sangat indah. Selain Bali yang telah mendunia dengan julukan “the island of paradise” pulau lain yang tak kalah mempesona adalah Pulau Lombok dengan tiga gilinya yang sangat terkenal, Pulau Moyo yang pernah dijadikan tempat berlibur Putri Diana dan Mick Jagger, hingga Pulau Rinca dan Pulau Komodo yang dikenal dengan “the largest living lizard in the world”.

Secara geografis, Indonesia terletak di lokasi yang sangat strategis, karena diapit oleh dua samudra dan dua benua. Sebagai negara kepulauan terluas di dunia, jika daratan dan perairannya digabungkan menjadi satu, maka  negeri ini akan seluas Amerika Serikat atau setara jarak antara London Hingga Moscow . Indonesia juga terletak tepat di pertemuan rangkaian gunung berapi aktif (ring of fire), karena itu negeri ini kaya akan gunung gemunung yang tegak menjulang dari Aceh hingga Papua, baik gunung berapi aktif maupun tidak. Pagi para pecinta alam, Indonesia adalah surganya gunung dengan berbagai tipe. Masing-masing gunung menawarkan pesona tersendiri, mulai dari Gunung Jayawijaya yang memiliki salju abadi, Gunung Merapi yang sangat aktif, Gunung Rinjani dengan Segara Anaknya, Gunung Bromo dengan sunrisenya yang magic dan pemandangan laksana di bulan, hingga Gunung Ijen yang dikenal dengan api birunya. 

Tidak hanya ratusan gunung yang tegak menjulang dengan gagah, sisa-sisa letusan gunung berapi pada masa lampau juga menyisakan kaldera yang kecantikannya masih bisa dinikmati hingga kini. Sebut saja Kaldera Dieng, Kaldera Tengger, serta Kaldera Toba yang merupakan kaldera raksasa. Sebelum menjadi danau yang cantik seperti sekarang ini, Toba memiliki kisah tersendiri. Gunung yang meletus sekitar 75.000 tahun lalu ini menghasilkan sekitar 2800 kilometer kubik abu ke atmosfer sehingga mempengaruhi iklim dunia. Saat itu Letusan Toba menyebabkan musim dingin vulkanik dengan penurunan suhu di dunia antara 3 – 15 derajat Celcius.
 

“Beri alasan kenapa kamu cinta negeri ini?” tanya sahabat saya pada suatu hari saat kami sedang berbincang tentang hal-hal random, mulai dari hidup, cinta, karir, hingga merembet ke rasa nasionalisme. Saya yang terbiasa dengan pemikirannya yang sedikit nyleneh serta pertanyaannya yang acapkali mengejutkan menjawab dengan singkat “Saya cinta Indonesia karena negeri ini cantiknya kebangetan”.  “Sesimpel itu?” tanyanya lagi. “Yapz! Nggak ada hal lain yang lebih reasonable dibanding itu.”

Ya, bagi saya hal tersebut sudah lebih cukup untuk dijadikan alasan mencintai Indonesia, sebuah negeri dengan begitu banyak keistimewaan yang telah Tuhan karuniakan. Mulai dari bentang alam yang elok rupawan, kekayaan alam yang melimpah, hingga SUKU BANGSA dan BUDAYA yang SANGAT BERAGAM. 

Selain alamnya yang sangat cantik, Indonesia juga kaya akan SUKU BANGSA dan BAHASA. Berdasarkan data dari BPS yang dilansir dari JPNN.COM pada tahun 2010 di Indonesia terdapat kurang lebih 1.128 SUKU BANGSA. Masing-masing suku memiliki budayanya sendiri yang adiluhung. Masyarakatnya pun memiliki penghidupan yang sangat beragam baik sebagai masyarakat agraris maupun maritim.


Ketangguhan pelaut Indonesia telah terbukti sejak dahulu. Jauh sebelum para pelaut Eropa berlayar mengarungi samudra dan Christopher Columbus menemukan benua Amerika, para pelaut dari kerajaan Mataram Kuno telah berlayar ke Tanjung Harapan, Afrika, hingga Madagascar. Pelayaran tersebut digambarkan dalam relief Candi Borobudur yang merupakan monumen Buddha termegah dan kompleks stupa terbesar dunia berdasarkan data dari UNESCO. Candi yang merupakan galeri mahakarya para pemahat pada abad ke – VIII ini pun pernah menjadi surga pagi para peziarah yang datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Kini Candi Borobudur pun tetap menjadi salah satu landmark wisata Indonesia.
Ribuan pulau yang indah menguntai di "Khatulistiwa" adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada negeri ini, Indonesia. Keindahan alam nusantara, barisan pegunungan, danau, sungai yang meliuk melukisi dan pantai-pantai samudera yang menginspirasi. Hutan hujan yang tinggi menjulang dan sawah ladang yang padinya kuning membentang. Keindahan alam Indonesia. Dan keindahan kearifan lokal yang menjuntai bak "mutu manikam", yang dari setiapnya memancarkan pesona dari rasa mensyukuri karunia. Mewujud dalam keindahan SENI BUDAYA, sastra bertutur dengan lisan dan dengan bayang-bayang, gerak tari, busana tradisionil, batik dan kerajinan, prosesi tradisi, lantunan nada maupun keindahan bangunan khas negeri, candi dan arca. 

Melihat semua fakta-fakta di atas tak ada lagi alasan bagi saya untuk tidak mencintai negeri ini. Alasan saya mencintai Indonesia sangatlah sederhana dan praktis. Saya mencintai negeri ini karena mata dan jiwa saya terpuaskan oleh kecantikan alam dan BUDAYAnya, kemudian jejak itu tertinggal jelas di dalam hati. Dan saya bersyukur bisa terlahir di negeri secantik ini. Lantas, bagaimana dengan Anda? Apa alasan Anda mencintai negeri ini? 

Sumber:
2. www.antarafoto.com/artikel/v1264724762/manikam-khatulistiwa
3. wisata.kompasiana.com/.../indonesia-sepotong-surga-di-khatulistiwa-492584.html
4. www.bi.go.id/web/id/Ruang+Media/.../lomba_foto_hut_672012.htm
5. sen1budaya.blogspot.com

Jumat, 04 Januari 2013

"ANTROPOLOGI KESEHATAN"

 "Antropologi Kesehatan" ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, akan tetapi "Antropologi Kesehatan" ini mempunyai akar.


"Antropologi Kesehatan" merupakan ilmu yang mempelajari gejala-gejala sosiobudaya, biobudaya, dan ekologi budaya dari "kesehatan" dan kesakitan yang dilihat dari segi-segi fisik, jiwa, dan sosial serta perawatannya masing-masing dan interaksi antara ketiga segi ini dalam kehidupan masyarakat, baik pada tingkat individual maupun tingkat kelompok sosial keseluruhannya".

"Antropologi Kesehatan" menjelaskan secara komprehensif dan interpretasi berbagai macam masalah tentang hubungan timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia dimasa lalu dan masa kini dengan derajat "kesehatan" dan penyakit, tanpa mengutamakan perhatian pada penggunaan praktis dari pengetahuan tersebut. Partisipasi profesional "antropolog" dalam program-program yang bertujuan memperbaiki derajat "kesehatan" melalui pemahaman yang lebih besar tentang hubungan antara gejala bio-sosial-budaya dengan "kesehatan", serta melalui perubahan tingkah laku sehat kearah yang diyakini akan meningkatkan "kesehatan" yang lebih baik.

Tugas utama ahli dari "Antropologi Kesehatan" adalah bagaimana individu di masyarakat mempunyai persepsi dan beraksi terhadap ill dan bagaimana tipe pelayanan "kesehatan" yang akan dipilih, untuk mengetahui mengenai budaya dan keadaaan sosial di komunitas tempat tinggal. "Antropologi Kesehatan" dianggap sebagai "antropologi" dari obat” (segi teori) dan "Antropologi" dalam pengobatan’ (segi praktis atau terapan).

Perkembangan "Antropologi Kesehatan" sejak permulaan dasawarsa enam puluhan begitu pesat (seluruh universitas yang tergolong baik di AS membuka program pengkhususan) "medical anthropology". Di dunia internasional dan di Indonesia khususnya, telah membentuk kondisi dasar bagi pengembangan dan peningkatan mutu pendidikan maupun penambahan jumlah tenaga ahli. Dengan demikian peranan mereka dalam penelitian berbagai masalah "kesehatan" dapat berkembang. Kondisi ini bukan hanya bagi kepentingan penelitian konseptual dan teoritis tetapi juga dalam menanggulangi masalah "kesehatan" bagi kepentingan masyarakat.

Foster (1981) mengembangkan Pelayanan "Kesehatan" Primer (PKP) sesudah dikenal sebagai Primary "Health" Care (Alma Alta 1978). Deklarasi ini bertujuan untuk mengurangi ketidakadilan pada sistem pelayanan "kesehatan" nasional negara berkembang seperti Indonesia. Deklarasi ini juga menetapkan bahwa "kesehatan" adalah suatu hak asasi manusia dan upaya meningkatkan derajat "kesehatan" setinggi mungkin merupakan tujuan sosial yang penting.

Di pihak lain dinyatakan bahwa rakyat di setiap negara memiliki hak dan kewajiban untuk berperan serta/berpartisipasi sosial, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan pelayanan "kesehatan" mereka. Tahun 2000 (diharap semua di dunia) harus mencapai tingkat "kesehatan" (hidup produktif) sosial ekonomi (santoso 1988) “kalau upaya yang dimaksud berhasil”. Perlu dikaji karena berbagai masalah yang telah dialami oleh institusi "kesehatan" PKP ("Antropologi Kesehatan" terapan) menunjukkan peranan ilmuwan "Antropologi Kesehatan" dlm penelitian mengenai masalah "kesehatan" & penanggulangan? Peningkatan derajat "kesehatan" penduduk.

Analisis mengenai gejala-gejala dapat secara :
- Teoritis
- Metodologi disusun berdasarkan teori tertentu

Dua hal di atas untuk pembuktian ilmiah & mempertajam pemahaman hakekat kemanusiaan dari gejala-gejala yang dimaksud secara lebih universal atau komparatif. Keterpaduan antara dimensi biomedis dan non biomedis dalam "antropologi" sebagai suatu ilmu induk, bukan hal asing.

Ruang lingkup "antropologi" mencakup :
- Segi biologi manusia
- Segi sosio budaya

Berdasarkan segi-segi ini, "antropologi" mengenal cabang-cabang:
-"Antropologi" biologi
-"Antropologi" sosio budaya
-"Antropologi" linguistik
-Prasejarah dan arkeologi

Ruang lingkup "antropologi" ini tercermin pada "Antropologi Kesehatan" yang juga memiliki – segi biologi (biomedis), segi nonbiologi (sosiobudaya & psikobudaya).

"Antropologi Kesehatan" merupakan bagian dari ilmu "antropologi" yang sangat penting sekali, karena di dalam "Antropologi Kesehatan" diterangkan dengan jelas kaitan antara manusia, budaya, dan "kesehatan" sehingga kita dapat mengetahui kaitan antara budaya suatu masyarakat dengan "kesehatan" masyarakat itu sendiri.

Anderson (2006 : 3) menyatakan bahwa "Antropologi Kesehatan" adalah disiplin biobudaya yang memberi perhatian kepada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi "kesehatan" dan penyakit. "Antropologi Kesehatan" ini tidak serta merta muncul dengan sendirinya, akan tetapi "Antropologi Kesehatan" ini mempunyai akar.

AKAR DARI "ANTROPOLOGI KESEHATAN".

Menelusuri "Antropologi Kesehatan" kontemporer untuk sumber yang berbeda, dimana perkembangannya masing-masing secara relatif (tetapi tidak mutlak) terpisah satu sama lain:
1. Perhatian ahli "antropologi" fisik terhadap topik-topik seperti evolusi, adaptasi, anatomi komparatif, tipe-tipe ras, genetik dan serologi
2. Perhatian etnografi tradisional terhadap pengobatan primitif termasuk ilmu sihir dan magic.
3. Gerakan “kebudayaan & kepribadian” pada akhir 1930-an & 1940-an, kerjasama antara ahli-ahli psikiatri & "antropologi".
4. Gerakan "kesehatan" masyarakat internasional setelah PD II.

"ANTROPOLOGI" FISIK
Sejumlah besar "antropologi" fisik, dokter Hasan & prasod (1959), meliputi nutrisi dan pertumbuhan, serta korelasi antara bentuk tubuh dengan variasi yang luas dari penyakit-penyakit seperti:
Radang pada persendian tulang (arthritis), Tukak lambung ( ulcer ), Kurang darah (anemia), Penyakit DM, dan lain-lain.

4 hal tadi termasuk studi "antropologi" yang bersifat medis dan pada tahun-tahun terakhir. "Antropologi" fisik disibukkan dengan kedokteran forensik, bidang masalah-masalah kedokteran hukum yang mencakup :
- Umur
- Jenis kelamin
- Peninggalan ras manusia
- Penentuan orang tua dari seorang anak melalui tipe darah (terjadi keraguan tentang siapa bapak ?)

ETNOMEDISIN
Kepercayaan dan praktek-praktek yang berkenaan dengan penyakit, yang merupakan hasil perkembangan kebudayaan asli dan yang eksplisit, tidak berasal dari kerangka konseptual kedokteran modern ( Hughes 1968, mis: pengobatan primitif).

DEFINISI "ANTROPOLOGI KESEHATAN".

Pengertian "Antropologi Kesehatan" yang dikemukakan oleh George.M.Foster dan Barbara Gallatin Foster yang lebih dikenal dengan nama Foster/Anderson menyebutkan bahwa : "Antropologi Kesehatan" adalah disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya di sepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi "kesehatan" dan penyakit.

Berikut ini definisi-definisi atau pengertian yang dikemukakan oleh  beberapa ahli: *)
·          
Menurut Weaver :  
"Antropologi Kesehatan" adalah cabang dari "antropologi" terapan yang menangani beberapa aspek dari "kesehatan" dan penyakit ( Weaver, 1968:1)

·         Menurut Hasan dan Prasad :  
"Antropologi Kesehatan" adalah cabang dari ilmu mengenai manusia yang mempelajari spek-aspek biologi dan kebudayaan manusia (termasuk sejarahnya) dari titik tolak pandangan untuk memahami kedokteran (medical), sejarah kedokteran (medico-historical), hukum kedokteran (medico-legal), aspek sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah "kesehatan" manusia (Hasan  dan Prasad, 1952: 21-22)

·         Menurut Hochstrasser :
      "Antropologi Kesehatan" adalah pemahaman biobudaya manusia dan karya-karyanya, yang berhubungan dengan "kesehatan" dan pengobatan. (Hochstrasser dan Tapp, 1970:245)

·         Menurut Lieban :  
"Antropologi Kesehatan" adalah studi tentang fenomena medis (Lieban 1973,1034)

·         Menurut Febrega :
     "Antropologi Kesehatan" adalah studi yang menjelaskan :
   Berbagai faktor, mekanisme dan proses yang memainkan peranan di dalam atau           mempengaruhi cara-cara dimana individu-individu dan kelompok-kelompok terkena atau       berespon terhadap sakit dan penyakit. Mempelajari masalah-masalah sakit dan penyakit dengan penekanan terhadap pola tingkah laku. (Fabrega, 1972: 167)
                                               
§      Menurut Solita Sarwono (1993)
         "Antropologi Kesehatan" adalah studi tantang pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan "kesehatan".
                                                  
Bila disimpulkan dari berbagai definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, kita dapat melihat bahwa pada kenyataanya "Antropologi" mempunyai kajian yang sangat luas. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat  (1984: 76) yang dikutip oleh Djekky R.Djoht, (2002)  menyatakan bahwa ilmu "antropologi" mempelajari manusia dari berbagai aspek yaitu aspek fisik, sosial dan budaya. Pengertian "Antropologi Kesehatan"yang dikemukakan oleh Foster/Anderson, adalah merupakan konsep yang tepat karena di dalamnya telah mencakup pengertian "Antropologi" yang lebih luas yang mencakup berbagai aspek.

Menurut Foster dan Anderson (1986), "Antropologi Kesehatan" mengkaji masalah-masalah "kesehatan" dan penyakit dari dua kutub yang berbeda yaitu: kutub biologi dan kutub sosial budaya.

kutub biologi :
§    pertumbuhan dan perkembangan manusia
§    peranan penyakit dalam evolusi manusia
§    paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba)

kutub sosial budaya:
§    sitem medis tradisional (etnomedism)
§    Masalah petugas-petugas "kesehatan" dan persiapan profesional mereka
§    tingkah laku sakit
§    hubungan antara dokter dan pasien
§    Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan "keesehatan" barat kepada masyarakat tradisional

Sumber:
1. antrounair.wordpress.com/.../antropologi-kesehatan-dan-pelayanan-kesehatan-primer/
2. www.ut.ac.id/...Antropologi%20Ke/
3. kalamenau.blogspot.com/.../antropologi-kesehatan-sebuah-definisi.html
4. lucky-tugas.blogspot.com/2011/04/antropologi-kesehatan.html
5. laely.widjajati.photos.facebook.com/LIBUR2-KOK-SAKIT-SEEEEH..../Moga-lekas-sembuh-ya.../
6. ida.amy.photos.facebook.com/Uda-lunas-bs-pulang- nich.../
7. ida.amy.photos.facebook.com/Mmuuuuaaah...^~^/
div class='clear'>