Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label KEKASIH ALLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEKASIH ALLAH. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

"RESIKO MEMAAFKAN"

"Memaafkan" adalah amalan yang sangat mulia ketika seseorang mampu bersabar terhadap gangguan yang ditimpakan orang kepadanya serta "Memaafkan" kesalahan orang padahal ia mampu untuk membalasnya".


"Memaafkan" itu indah ...
"Memaafkan" itu Sedekah ...
"Memaafkan" itu mengundang Maghfirah-Nya ...
"Memaafkan" itu mengundang Rahmat-Nya ..."Memaafkan" itu menghadirkan keridha'an-Nya ...
"Memaafkan" itu nikmat ...."Memaafkan" itu lezat ...."Memaafkan" itu melapangkan perasaan ..."Memaafkan" itu melapangkan kesusahan ...
"Memaafkan" itu membuka pintu-pintu cinta ...."Memaafkan" itu membuka pintu-pintu dunia ...."Memaafkan" itu membuka pintu-pintu bahagia ..."Memaafkan" itu membuka pintu-pintu surga ...
"Memaafkan" itu melepaskan masalah ..."Memaafkan" itu melepaskan rasa resah ...."Memaafkan" itu melepaskan rasa serba salah ..."Memaafkan" itu melepaskan lelah ...
"Memaafkan" itu melancarkan pernapasan ..."Memaafkan" itu melancarkan hubungan ..."Memaafkan" itu menambah ketampanan ..."Memaafkan" itu menambah kejelitaan ...
"Memaafkan" itu mengikhlaskan ..."Memaafkan" itu menyehatkan ..."Memaafkan" itu mendewasakan ..."Memaafkan" itu mencerdaskan ...
"Memaafkan" itu membersihkan diri ..."Memaafkan" itu mengundang rejeki ..."Memaafkan" itu menenangkan hati ..."Memaafkan" itu mengundang ridha Illahi ...

Sumber:
1. asysyariah.com/memaafkan-kesalahan-dan-mengubur-dendam.html
2. Facebook.Bunda.Endang.Achwan/Shared-Strawberry's-status-update/ 
3. Facebook.Laely.Widjajati/Kok di blakang q bnyak "ULAR" nya ya ???????????

Senin, 31 Desember 2012

"MENYAMBUT (MERAYAKAN) TAHUN BARU"

"Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan "tahun baru"? Bolehkah "Merayakan"nya?"


Diantara kebiasaan orang dalam memasuki "tahun baru" di berbagai belahan dunia adalah dengan "merayakan"nya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki "tahun baru", wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama'ah menyongsong "tahun baru"

Sebenarnya bagaimana Islam memandang perayaan "tahun baru"? Bolehkah "Merayakan"nya? "Tahun baru" tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana 'Iedul Fitri, 'Iedul Adha ataupun hari Jum'at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.

Malam ini, kita mulai memasuki "tahun baru" 2013. "Tahun" 2012 segera meninggalkan kita, tinggal menghitung jam, menit, dan detik saja. Di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, ada diantaranya kebiasaan orang dalam menyambut pergantian "tahun" Masehi "merayakan"nya dengan bergadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup trompet pada detik-detik memasuki "tahun baru", pertunjukan semalam suntuk, atau cara lainnya.

Sebagian umat Islam, tidak ketinggalan dan sudah mulai terbiasa di beberapa tempat, diadakan ceramah agama, dan zikir berjamaah menyongsong pergantian "tahun". Kegiatan seperti ini, meskipun ada manfaatnya, tetapi oleh sebagian pihak umat Islam menganggapnya sebagai bid’ah, sesuatu yang tidak ada contohnya baik dari Rasulullah SAW maupun dari para sahabat rasul.

Pada hakikatnya setiap pergantian "tahun" umur kita tidaklah bertambah, tetapi sebaliknya, berkurang, semakin mendekat ke akhir hayat, ke kematian. Penanggalan Masehi yang berdasarkan peredaran matahari memang mendahului penanggalan Islam, Hijriyah yang berdasarkan peredaran bulan, sehingga ada perbedaan 11-12 hari dalam setiap "tahun"nya.

"Menyambut tahun baru" Masehi memang tak ada bimbingannya dalam Islam. Namun untuk "menyambut tahun baru", sebaiknya masing-masing pribadi muslim:
  1. Selalu menjadikan Allah SWT sebagai maula, penolong.
  2. Berupaya untuk menjadi muslim yang cerdik dengan selalu mengingat kematian, sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW dalam satu hadis beliau.
  3. Mengevaluasi/merenungi diri, bermuhasabah, sejauh mana telah menunaikan ajaran-Nya dan rasul-Nya.
  4. Beristigfar, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat, disengaja ataupun tidak.
  5. Memohon agar Allah SWT menerima segala amal ibadah, dan semoga Dia selalu membimbing ke jalan-Nya yang lurus.
  6. Berdoa agar Allah SWT selalu memberikan rahmat dan keselamatan dalam waktu-waktu atau sisa hidup yang akan dijalani.
  7. Mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah selama ini, insya Allah nikmat tersebut akan ditambah-Nya.
  8. Mendoakan kedua orang tua baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
  9. Tidak menyia-nyiakan waktu hanya untuk pekerjaan yang mubazir, yang sia-sia, dan yang tidak ada tuntunannya yang jelas.
  10. Tidak berlaku riya’, takabur, sombong.
  11. Salat tobat, memperbanyak doa dan zikir.
  12. Tidak sampai menyerupai perilaku orang kafir dalam menyambut pergantian "tahun", tetapi sebaiknya tidak ikut-ikutan "merayakan"nya.
  13. Tidak menyerupai kaum kafir dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat lahiriah akan mengandung konsekuensi menyerupai mereka pula dalam gerak-gerik dan bentuk pada hal-hal yang bersifat batiniah/akidah.
  14. Hindari kegiatan yang terkesan buang-buang dana, waktu, tenaga, apalagi yang berbau maksiat dan sirik. 
Sumber:
1. www.equator-news.com/religi/20111230/menyambut-tahun-baru
2. dulatifh.wapath.com/Islami/Maktabah/ThMasehi
3. laely.widjajati.photos.facebook.com/Kok-di blakang q-bnyak-"ULAR" nya-ya-???????????/

Sabtu, 03 November 2012

"QARIN (JIN/MALAIKAT PENDAMPING MANUSIA)"

"Beberapa penjelasan tentang "QARIN" atau "Jin Pendamping Manusia", yang barangkali selama ini menjadi pertanyaan di antara kita, berikut ini beberapa penjelasan yang bisa anda simak".
 

DALIL-DALIL TENTANG "QARIN".
 
Menurut Al-Ustadz Dzulqornain bin Muhammad Sunusi, tentang setiap "manusia" mempunyai "qarin" ("pendamping"). Mungkin bisa dicermati dari beberapa nash dalil. 
 
1. Diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“Siapa yang berpaling dari dzikir kepada Ar-Rahman maka kami akan buat syaithon berkuasa terhadapnya sehingga dia menjadi "qorin"nya.” [Az-Zukhruf: 36]
Makna "qorin" dalam ayat adalah syaithan yang terus menggodanya, melalaikan dan menyesatkannya.

Dan Rasulullah SAW. bersabda,
« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ » ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَير
“Tidak seorang pun dari kalian kecuali telah diwakilkan kepada "qarin"nya dari Jin.” Shahabat bertanya, “Juga kepada engkau wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Juga kepadaku. Namun Allah telah membantuku sehingga ("qarin"ku) masuk Islam (boleh juga diterjemah sehingga aku selamat darinya). Maka dia tidak menyuruhkan kecuali hanya dengan kebaikan,” (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud)

Juga suatu hari  ‘Aisyah ra. cemburu terhadap Rasulullah yang keluar di waktu malam, maka beliau bersabda, “Apakah syaithanmu telah mendatangimu?”
Aisyah menjawab, “Wahai Rasulullah, apa bersama saya ada syaithan?”
Beliau menjawab, “Iya.”
Aisyah bertanya, “Apakah bersama setiap insan?”
Beliau menjawab, “Iya.”
Aisyah bertanya, “Juga bersama engkau, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Iya. Tapi Allah membantuku terhadapnya sehingga aku selamat.”
(Dikeluarkan oleh Imam Muslim).

"Jin pendamping" ("Qarin") Rasulullah SAW. bernama Habib al-Huda, beragama Islam dan menurut para ulama sampai sekarang beliau masih hidup, beliau tinggal di Baqi’. Di Baqi’, beliau mempunyai majelis pengajaran tafsir dan hadis-hadis Rasulullah SAW yang didatangi oleh "jin"-"jin" muslim. Hal ini bisa saja terjadi sebab umur rata-eata "Jin" panjang bisa mencapai ratusan dan ribuan tahun.

2.  Penjelasan tentang adanya "qarin" pada setiap "manusia" adalah peringatan untuk menghindari fitnah dan was-was serta penyesatannya, sehingga setiap orang menghindari segala perkara yang bisa mengantarnya kepada dosa dan agar dia senantiasa berlaku taat kepada Allah dan selalu berdzikir mengingat-Nya.

3. Adanya "Jin" adalah hal yang dimaklumi. Tapi harus diingat bahwa tidak boleh seorang muslim menggunakan istilah-istilah pocong, kuntilanak dan semisalnya dari kamus orang-orang yang rusak keyakinannya. Kalau pun ada dari "manusia" yang pernah menyaksikan hal tersebut, maka itu hanya tipu daya dari "Jin" atau syaithan untuk menyesatkan.
Wallahu A’lam

Syaikh Saleh Al-Fauzan Hafizahullah ditanya: Apa makna riwayat yang menyebutkan bahwa setiap "manusia" memiliki "pendamping" ("qarin") dari kalangan "jin". Apakah benar bahwa "qarin" tersebut mengabarkan "manusia" tentang perkara- perkara yang telah terjadi atau yang akan terjadi dalam waktu dekat?

Beiau menjawab:
أما الإخبار عن المستقبل فلا يعلمه إلا الله ، فلا أحد يخبر عن هذا لا من الجن ولا من الإنس ، إنما الغيب لله سبحانه وتعالى ” عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا ” كما يأتيكم في هذه السورة ، وأما أن مع الإنسان قرينا من الجن وقرينا من الملائكة نعم مع الإنسان قرين من الملائكة يدله على الخير ، وقرين من الجن والشياطين يدله على الشر فأيهما غلب عليه سار معه ، ابتلاء وامتحان من الله سبحانه وتعالى . نعم .
“adapun mengabarkan sesuatu yang akan datang maka tidak seorangpun yang mengetahuinnya kecuali Allah, tidak seorangpun yang dapat mengabarkan tentang hal ini, baik "jin" maupun "manusia". Alam gaib itu hanya milik Allah Azza wajalla, “Dialah yang mengetahui Alam gaib, maka Dia tidak menampakkan Alam gaib itu kepada siapapun”, sebagaimana yang terdapat pada surah ini. Adapun masalah setiap "manusia" memiliki "qarin" dari kalangan "jin" dan "qarin" dari kalangan "malaikat" maka hal itu benar , setiap manusia memiliki "qarin" dari "malaikat" yang membimbingnya kepada kebaikan dan "qarin" dari kalangan "jin" dan syaitan yang mengarahkannya kepada keburukan, yang mana yang lebih kuat maka dia yang berjalan bersama "manusia" itu sebagai ujian dan cobaan dari Allah Azza Wajalla.

Syaikh Saleh Al-Fauzan Hafizahullah ditanya:
Apakah dapat diambil dari kisah kaum "jin" yang mendengar Al-Qur’an dari Nabi SAW, bahwa kaum "Jin" yang mukmin mereka hadir ketika dibacakan Al-Qur’an dimasjid- masjid, dan di berbagai tempat- tempat perkumpulan disaat Al-Qur’an dibacakan.?
Beliau menjawab:
نعم الجن المؤمنون يحضرون الدروس ، يحضرون تلاوة القرآن مع إخوانهم الإنس يحضرون هذا ، وإن كنا لا نراهم فهم يحضرون . نعم .
“Iya, kaum "jin" yang mukmin menghadiri pelajaran- pelajaran, mereka juga menghadiri bacaan Al-Qur’an bersama saudara- saudara mereka dari "manusia", mereka hadir, meskipun kita tidak dapat melihat mereka namun mereka hadir. Iya”

Nabi SAW. bersabda:
ما منكم من أحد إلاوقد وكل به قرينه من الجن
“Setiap orang di antara kalian telah diutus untuknya seorang "qarin" ("pendamping") dari golongan "jin". (HR. Muslim).
 
Imam An-Nawawi mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat peringatan keras terhadap godaan "jin" "qarin" dan bisikannya. Nabi SAW. memberi tahu bahwa dia bersama kita, agar kita selalu waspada sebisa mungkin. (Syarh Shahih Muslim, 17:158)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajid menjelaskan, “Berdasarkan perenungan terhadap berbagai dalil dari Al-Qur'an dan Sunah dapat disimpulkan bahwa tidak ada tugas bagi "jin" "qarin" selain menyesatkan, mengganggu, dan membisikkan was-was. Godaan "jin" "qarin" ini akan semakin melemah, sebanding dengan kekuatan iman pada disi seseorang.” (Fatawa Islam, tanya jawab, no. 149459).

"Jin pendamping" dikuatkan oleh dalil Al-Qur’an dalam (QS. Qaf:23-31)
[23] Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku”.[24] Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala,[25] yang sangat enggan melakukan kebaikan, melanggar batas lagi ragu-ragu,[26] yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”.[27] Yang menyertai dia berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”.[28] Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu”.[29] Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.[30] (Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada *******: “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab: “Masih adakah tambahan?”.[31] Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka).

Bagi kita orang awam akan timbul pertanyaan : Apakah "Jin pendamping" muslim itu juga pasti muslim?, jawabnya tidak mesti. Kadang-kadang "Jin pendamping" seorang muslim itu adalah "jin" muslim, tetapi ada juga "jin" kafir, ateis, penyembah berhalah, kristen, yahudi. "Jin pendamping" ("qarin") yang non muslim ini, bertengger di bahu kiri pada orang yang didampinginya, dan dia adalah pendukung kejahatan. Tetapi pengaruh "manusia" terhadap "jin" lebih besar ketimbang pengaruh "jin" terhadap "manusia".
"Jin Pedamping" yang muslim, sangat mencintai orang muslim yang didampinginya dalam derajat yang tidak dapat dibayangkan oleh "manusia". Dia melindungi "manusia" yang didampinginya dari berbagai bahaya, dan membantu untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Ketika anda lupa shalat dia membantu mengingatkan dan membangunkan anda. Dia tidak pernah meninggalkan orang muslim yang didampinginya kecuali orang tsb sedang menggauli istrinya. Ketika sang suami isteri sudah masuk kamar dan pintu ditutup, maka "Qarin" dengan sekejap sudah berada di Mekkah untuk shalat disana, dan balik lagi dalam waktu sekejap ke rumah orang muslim tersebut.

"JIN" QARIN" TIDAK IKUT "MANUSIA" MENINGGAL. 

Apakah "qarin" juga menyertai "manusia" setelah dia meninggal? Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Apakah "qarin" ini akan terus menyertai "manusia", sampai menemaninya di kuburan? jawabnya, Tidak. Zahir hadis –Allahu a'lam– menunjukkan bahwa dengan berakhirnya usia "manusia", maka "jin" ini akan meninggalkannya. Karena tugas yang dia emban telah berakhir. Ketika "manusia" mati maka akan terputus semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya. (HR. Muslim). (Majmu' Fatawa, 17:427)

CARA MELINDUNGI DIRI DARI "JIN" "QARIN".

Banyaklah berdzikir dan memohon perlindungan kepada Allah. Jika kita sungguh-sungguh melakukan hal ini, insya'Allah, akan datang perlindungan dari Sang Kuasa. Allah berfirman:

وَإِمَّا يَنَزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Apabila setan menggodamu maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-A’raf: 200)

Dalam Tafsir As-Sa’di dinyatakan, “Kapanpun, dan dalam keadaan apapun, ketika setan menggoda Anda, dimana Anda merasakan adanya bisikan, menghalangi Anda untuk melakukan kebaikan, mendorong Anda untuk berdosa, atau membangkitkan semangat Anda untuk maksiat maka berlindunglah kepada Allah, sandarkan diri Anda kepada Allah, mintalah perlindungan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar terhadap apa yang anda ucapkan dan Maha Mengetahui niat Anda, kekuatan dan kelemahan Anda. Dia mengetahui kesungguhan Anda dalam bersandar kepada-Nya, sehingga Dia akan melindungi Anda dari godaan dan was-was setan. (Taisir Karimir Rahman, Hal.313).

Berdasarkan hadits2 di atas, Nabi Muhammad juga ternyata didampingi syetan. Hanya syetan itu tidak berkutik terhadapnya. 

BAGAIMANA MENDETEKSI KEBERADAAN "JIN".

Bagaimana mendeteksi keberadaan "jin" (misalnya di rumah kita), apa tanda-tanda seseorang kemasukan "jin"? Tidak ada cara atau alat yang bisa mendeteksi keberadaan "jin". Sebab "jin" dalam wujud aslinya merupakan makhluk ghaib yang tidak mungkin dilihat "manusia" (QS Al-A’raf 7:27).

Tidak ada "manusia" yang bisa melihat "jin", dan jika ada "manusia" yang mengklaim mampu melihat "jin", maka orang tersebut sedang bermasalah. Bisa jadi dia mempunyai "jin" warisan atau pun "jin" hasil dia belajar. Kemampuan ini sebetulnya dalam Islam dilarang untuk dimiliki, dan termasuk dalam kategori bekerja sama dengan "jin" yang menyesatkan (QS Al-"Jin" 72:6).

Sesungguhnya, tidak ada cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan "jin". Jangan meminta bantuan orang yang mempunyai ilmu terawang. Sebab kalau kita meminta bantuannya, kita berarti telah meminta bantuan dukun musyrik yang dalam Islam merupakan dosa besar, bahkan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.

Sumber: 
1. www.mediasalaf.com/aqidah/tentang-qorin-jin-pendamping-manusia/
2. www.konsultasisyariah.com/mengenal-jin-qorin/
3. batharabumi.blogspot.com/2010/02/qorin.html

Jumat, 10 Agustus 2012

"I'tikaf Pada Bulan Ramadhan"

"I'tikaf" dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu." 


"I'tikaf" berasal dari bahasa Arab akafa yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi. Pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah (introspeksi) atas perbuatan-perbuatannya. Orang yang sedang ber"i'tikaf" disebut juga mutakif.


Sedangkan dalam pengertian syari'ah agama, "I'tikaf" berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci "Ramadhan", dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadar.

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان ، متفق عليه .

" Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. biasa ber"i'tikaf" pada sepuluh hari terakhir pada bulan "Ramadhan"." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

عن أبي هريرة رضى الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما ـ رواه البخاري.

"  Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa ber"i'tikaf" pada tiap bulan "Ramadhan" sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah ber"i'tikaf" selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).
JENIS-JENIS  "I'TIKAF" :
"I'tikaf" yang disyariatkan ada dua macam: "i'tikaf" sunnah dan wajib.
  1. "I'tikaf" sunnah adalah "i'tikaf" yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri dan mengharapkan ridha Allah SWT seperti; "i'tikaf" 10 hari terakhir pada bulan "Ramadhan".
  2. "I'tikaf" wajib adalah "i'tikaf" yang dikarenakan bernazar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan penyakitku ini, maka aku akan ber"i'tikaf".
TUJUAN "I'TIKAF" :

1. Dalam rangka menghidupkan sunnah sebagai kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. dalam rangka pencapaian ketakwaan hamba.

2. Sebagai salah satu bentuk penghormatan kita dalam meramaikan bulan suci "Ramadhan" yang penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT.

3. Menunggu saat-saat yang baik untuk turunnya Lailatul Qadar yang nilainya sama dengan ibadah seribu bulan sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat 97:3.

4. Membina rasa kesadaran imaniyah kepada Allah dan tawadlu' di hadapan-Nya, sebagai makhluk Allah yang lemah.
RUKUN "I'TIKAF":
"I'tikaf" dianggap syah apabila dilakukan di masjid dan memenuhi rukun-rukunnya sebagai berikut :

1. Niat. Niat adalah kunci segala amal hamba Allah yang betul-betul  mengharap ridla dan pahala dari-Nya.

2. Berdiam di masjid. Maksudnya dengan diiringi tafakkur, dzikir, berdo'a dan lain-lainya.

3. Di dalam masjid. "I'tikaf" dianggap syah bila dilakukan di dalam masjid, yang biasa digunakan untuk shalat Jum'ah. Berdasarkan hadist RasulullahSAW.

" ولا اعتكاف إلا في مسجد جامع ـ رواه أبو داود.

"Dan tiada "I'tikaf" kecuali di masjid jami' (H.R. Abu Daud)

4. Islam dan suci serta akil baligh.
CARA BER"I'TIKAF":
1. Niat ber"I'tikaf" karena Allah. Misalnya dengan mengucapkan : Aku berniat "I'tikaf" karena Allah ta'ala.

نويت الاعتكاف لله تعالى

2. Berdiam diri di dalam masjid dengan memperbanyak berzikir, tafakkur, membaca do'a, bertasbih dan memperbanyak membaca Al-Qur'an.

3. Diutamakan memulai "I'tikaf" setelah shalat subuh, sebagaimana hadist Rasulullah SAW.

وعنها رضى الله عنها قالت كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا أراد أن يعتكف صلى الفجر ثم دخل معتكفة "ـ متفق عليه .

"Dan dari Aisyah, ia berkata bahwasannya Nabi SAW. apabila hendak ber"I'tikaf" beliau shalat subuh kemudian masuk ke tempat "I'tikaf". (H.R. Bukhori, Muslim)

4. Menjauhkan diri dari segala perbuatan yang tidak berguna. Dan disunnahkan memperbanyak membaca:

أللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عنا

Ya Allah sesungguhnya Engkau Pemaaf, maka maafkanlah daku.
WAKTU "I'TIKAF":
1. Menurut mazhab Syafi'i, "I'tikaf" dapat dilakukan kapan saja dan dalam waktu apa saja, dengan tanpa batasan lamanya seseorang ber"I'tikaf". Begitu seseorang masuk ke dalam masjid dan ia niat "I'tikaf" maka syahlah "I'tikaf"nya.

2. "I'tikaf" dapat dilakukan selama satu bulan penuh, atau dua puluh hari. Yang lebih utama adalah selama sepuluh hari terakhir bulan suci "Ramadhan" sebagaimana dijelaskan oleh hadist di atas.
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN "I'TIKAF":
1. Berbuat dosa besar.

2. Bercampur dengan istri.

3. Hilang akal karena gila atau mabuk.

4. Murtad (keluar dari agama).

5. Datang haid atau nifas dan semua yang mendatangkan hadas besar.

6. Keluar dari masjid tanpa ada keperluan yang mendesak atau uzur, karena maksud "I'tikaf" adalah berdiam diri di dalam masjid dengan tujuan hanya untuk ibadah.

7. Orang yang sakit dan  membawa kesulitan dalam melaksanakan "I'tikaf".
HIKMAH BER"I'TIKAF":
1. Mendidik diri kita lebih taat dan tunduk kepada Allah.

2. Seseorang yang tinggal di masjid mudah untuk memerangi hawa nafsunya, karena masjid adalah tempat beribadah dan membersihkan  jiwa.

3. Masjid merupakan madrasah ruhiyah yang sudah barang tentu selama sepuluh hari ataupun lebih hati kita akan terdidik untuk selalu suci dan bersih.

4. Tempat dan saat yang baik untuk menjemput datangnya Lailatul Qadar.

5. "I'tikaf" adalah salah satu cara untuk meramaikan masjid.

6. Dan ibadah ini adalah salah satu cara untuk menghormati bulan suci "Ramadhan".
Referensi:
1. www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com...task...
2. id.wikipedia.org/wiki/Iktikaf

Rabu, 18 Juli 2012

"Mohon Maaf Menjelang Ramadhan"









Sahabat...
Ada interaksi ada pergesekan...
Ada Ucap Ada Khilaf...
Ada pandangan ada godaan...
 Ijinkanlah...
Dalam berhitung hari menuju Ramadhan yang suci
Kami sekeluarga mengucapkan : "Mohon Maaf Lahir dan Bathin,
Semoga Allah ijinkan diri dan jiwa ini menemui Ramadhan-Nya Yang Suci,
Moga diberi kekuatan untuk berbagi,
Moga diberi kemudahan dalam ber'amal baik,
Moga setiap hela nafas,
Aliran darah dan gerak tubuh bernilai ibadah"
Kami sekeluarga telah memaafkan sahabat semua sebelum sahabat meminta maaf...

Rabu, 11 Juli 2012

"Amal Yang Ikhlas"

"Ikhlas"lah dalam agamamu, meskipun kerjamu sedikit", nasihat Rasulullah SAW. Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Hakim.


Ketahuilah, bahwa suatu pekerjaan dapat diterima Allah dengan baik, haruslah memiliki dua sifat:
1. Pekerjaan itu harus sesuai dengan syariat.
2. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan "ikhlas", semata hanya karena Allah.

Jika salah satu dari keduanya yang terpenuhi, maka dia tidak dapat diterima-Nya, karena tidak memenuhi syarat-syarat. Artinya, jika sesuai dengan syariat, tetapi tidak "ikhlas" atau sebaliknya; dilakukan dengan "ikhlas", tetapi tidak sesuai dengan syariat, maka "amalan" itu tidak akan diterima di sisi Allah.

Seorang pernah bertanya kepada Al Fudhail bin Iyadh tentang maksud "Ahsanu "amala" dalam firman-Nya:
"Untuk menguji kamu, siapakah di antara kamu yang paling baik "amal"nya". (QS. Al Mulk ayat 2).

Jawab Al Fudhail:
"Ahsanu "amal" ialah "amal" yang paling "ikhlas" dan paling tepat. Sesungguhnya "amal" itu apabila "ikhlas", tetapi tidak tepat, tidak akan diterima-Nya. "Amal" seseorang tidak akan diterima, kecuali yang dilakukan dengan "ikhlas" dan tepat. Yang dimaksudkan dengan "ikhlas" ialah, yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT, dan yang dimaksud tepat ialah, yang sesuai dengan syariat, seperti yang difirmankan Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 110, "Barangsiapa mengharap akan menemui Rabbnya, hendaklah ia ber"amal" dengan "amalan" saleh, dan janganlah mempersekutukan dalam menyembah Rabbnya dengan sesuatu apapun".

(Sumber: Nasihat Untuk Para Wanita. Oleh: DR. Najaat Hafidz).

Senin, 09 Juli 2012

"Takut Kepada Allah"

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu "takut" kepada "Allah", niscaya "Allah" akan memberikan petunjuk dan menutupi kesalahanmu, serta mengampuni dosamu, dan "Allah" mempunyai karunia yang besar".
"Barangsiapa "takut" kepada "Allah", maka "Allah" akan membukakan jalan keluar (dari kesulitan) baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak pernah diduganya (semula)". (QS. At-Thalaq, ayat 2-3).

Sabtu, 26 Mei 2012

"Perilaku Tawadhu"

"Rasulullah SAW. bersabda, "Allah mewahyukan kepadaku untuk menerapkan "perilaku tawadhu"  (rendah hati) terhadap kalian sehingga seseorang tidak merasa sombong terhadap yang lainnya dan ridak mendzalimi orang lain". (HR. Muslim).




Sabtu, 14 April 2012

"Pahala Sedekah Berlipat Dua Kali"

"Apakah anda ingin menjadikan pahala "Sedekah" anda berlipat dua kali? Ber"Sedekah"lah kepada saudara-saudara dan karib kerabat anda!"


Rasulullah SAW. bersabda: "Sedekah" kepada seorang miskin adalah satu "Sedekah", dan ("Sedekah") untuk saudara adalah dua "Sedekah", (yaitu) "Sedekah" dan silaturahmi." (HR. Bukhari).

Jumat, 06 April 2012

"Bersikap Benar/Jujur"

"Nabi SAW. bersabda: "Dan seseorang senantiasa berbuat "jujur" dan membiasakan "jujur" sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang "jujur". (HR. Muslim, Ahmad dan At-Tiemidzi.Shahih Al-Jani').


Kedudukan ini tidak tercapai kecuali oleh siapa yang dikehendaki oleh Allah baik agamanya dan dunianya, atau jika tidak maka untuk siapa yang diketahui oleh Allah bahwa ia akan mati dalam keadaan iman dan "jujur". Hal ini sebagaimana Sabda Nabi SAW. tentang Ahli Badr:
"Allah telah tahu (akhir hidup) Ahli Badr, maka berfirman, "Perbuatlah apa yang kalian kehendaki. Aku telah mengampuni kalian." (HR. Muslim dari Ali, Fadhail Ash-Shahabah). Dan kenyataannya mereka semua mati dalam tauhid. 

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah Ayat 119:
"Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang "benar".

Dari Syaddad bin Al-Had RA., bahwa seorang laki-laki Badui datang kepada Nabi SAW., menyatakan keimanan dan mengikutinya, kemudian ia berkata, "Saya berhijrah bersamamu", lalu Nabi SAW menitahkan kepadanya menjaga beberapa sahabatnya.

Pada suatu peperangan Nabi SAW. memperoleh rampasan berupa tawanan. Lalu, Nabi membagi-bagi dan memberi bagian untuknya, lalu memberikan kepada sahabatnya bagian Badui itu; Badui itu bertugas melindungi bagian belakang mereka. Ketika Badui datang, maka mereka memberikan kepadanya. Badui berkata, "Apa ini?" Mereka menjawab, "Bagian yang diberikan Nabi kepadamu". Dia mengambilnya dan membawanya menghadap Nabi, lalu berkata, "Apa ini?" Nabi bersabda, "Saya membaginya untukmu". Dia berkata, "Bukan karena hal ini saya mengikutimu. Akan tetapi, saya mengikutimu agar saya terkena anak panah di sini - sambil menunjuk tenggorokannya- sehingga saya masuk surga". Maka Nabi bersabda, "Jika kamu mem"benar"kan Allah, maka Ia akan mem"benar"kanmu".
Lalu mereka tinggal sebentar, sebelum kemudian mereka berangkat berperang melawan musuh. Setelah itu, ia dipanggil menghadap Nabi dalam keadaan terkena anak panah pada tempat yang ia tunjuk. Nabi bersabda, "Apakah betul ini dia?" Sahabat menjawab, "Betul!" Nabi bersabda, "Dia mem"benar"kan Allah, maka Allah mem"benar"kannya".
Kemudian Nabi SAW. mengkafaninya dengan jubah Nabi SAW. Beliau maju ke depan dan menyalatinya. Termasuk yang terdengar dari doanya adalah:
"Ya Allah ini hamba-Mu, dia keluar berhijrah dan terbunuh syahid, saya menjadi saksi atas hal tersebut". (HR. An-Nasa'i dan Al-Hakim. Al-Albani menghukuminya Shahih dalam Shahih Al-Jami').

Anas bin Malik mengatakan, "Pamanku Anas bin An-Nadhr tidak ikut perang Badr. Dia berkata, saya absen dari perang pertama bersama Rasulullah SAW. Jika Allah memberi kesempatan bagiku untuk perang niscaya Allah akan menunjukkan apa yang saya perbuat.

Ketika perang Uhud kaum muslimin mengalami kekalahan, maka ia berkata, "Ya Allah saya berlepas diri kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum musyrik - dan saya meminta maaf  kepada-Mu dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum muslimin". Kemudian dia berjalan dengan membawa pedangnya dan bertemu Sa'd bin Mu'adz. Ia berkata, "Hai Sa'd, demi Allah sesungguhnya saya mencium wangi surga di Uhud!" Kemudian dia berperang sampai terbunuh.
Lalu Sa'd berkata, "Ya Rasulullah saya tidak dapat melakukan apa yang ia lakukan". Anas bin Malik berkata, "Kami menjumpainya diantara mereka yang terbunuh. Pada tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka akibat sabetan pedang atau tusukan tombak atau bidikan panah. Kami tidak mengenalinya sampai datang saudara perempuannya yang mengenali ujung jarinya".    
Anas berkata, "Kami memperbincangkan bahwa ayat berikut ini,
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merobah (janjinya)." (Surat Al-Ahzab ayat 23) --- diturunkan berkenaan dengannya dan sahabat-sahabatnya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika beredar kabar Nabi SAW. terbunuh, maka semangat juang menjadi surut atau hilang dari diri sebagian besar sahabat Nabi. Sehingga, sebagian mereka ada yang berhenti perang dan meletakkan senjatanya sambil berdiam diri.
Anas bin An-Nadhr berpapasan dengan mereka ketika mereka meletakkan barang yang di tangan mereka. Dia berkata, "Apa yang kalian tunggu?" Mereka menjawab, "Rasulullah SAW. telah tebunuh". Dia berkata, "Apa yang kalian perbuat dengan kehidupan ini setelah kematiannya?" Bangkitlah dan matilah seperti matinya Rasulullah".
Kemudian dia berdo'a, "Ya Allah saya meminta maaf kepadamu dari apa yang diperbuat mereka - yakni kaum muslim - dan saya berlepas diri dari apa yang dilakukan mereka - yakni kaum musrik", Lalu dia maju ke kancah peperangan dan berjumpa Sa'd bin Mu'adz. Dia berkata, "Mana hai Abu Amr? Anas berkata, "Sungguh ada aroma surga hai Sa'd, sungguh saya menciumnya di Uhud". Kemudian dia berlalu dan berperang melawan musuh sehingga terbunuh. Tidak ada yang mengenalinya sampai datang saudara perempuannya setelah pertempuran berakhir, yang mengenali ujung jarinya. Pada tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka tusukan tombak, bacokan pedang dan bidikan panah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Inilah Anas bin An-Nadhr. Ke"jujur"annya menuntunnya kepada akhir yang bahagia. Dia mencium wangi surga sebelum berperang Bahkan Nabi SAW. bersabda:
"Siapa yang meminta kesyahidan kepada Allah secara sungguh-sungguh, maka Allah mengangkatnya ke derajat para syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya".  (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Abu Dawud, Shahih Al-Jami').

Demikianlah, apabila seorang hamba berlaku "benar" terhadap Allah, maka Allah akan menjaga keimanannya, mengokohkan hatinya untuk bertauhid, dan mengkaruniakan kepadanya husnul khatimah.

(Sumber: Tamasya Ke Negeri Akhirat. Oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri).

"Hidup Indah Dengan Taubat"

"Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur Ayat 31: ".... dan ber"taubat"lah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung".


Berbahagialah orang-orang yang ber"taubat", karena dengan begitu mereka kembali pada fitrah. Mereka menjalani ke"hidup"an yang damai dan "indah". "Taubat" yang sesungguhnya akan membawa keberkahan dalam ke"hidup"an. Tiada lagi rasa resah dan gelisah, dikejar-kejar oleh dosa dan juga perasaan bersalah. Mereka merasakan ketenangan dan ketentraman "hidup".

Orang-orang yang menjalani ke"hidup"an penuh dosa, tampak tenang-tenang saja dan bahkan mereka cenderung terlihat selalu senang. Tertawa-tawa dan seakan menjalani ke"hidup"an ini dengan ringan. Tapi cobalah sentuh hatinya, tanyalah pada mereka bagaimana perasaan mereka. Bahagiakah? Atau tak terperi? Seperti orang-orang yang terjerumus kepada narkoba, justru mereka adalah para pecundang ke"hidup"an. Mereka melarikan diri dari segala masalah "hidup" dan tidak berani menyelesaikannya. Dengan narkoba mereka berharap dapat merasakan kenikmatan dan terhindar dari semua permasalahan "hidup". Padahal mereka sedang menipu diri mereka sendiri. Menganggap kesenangan dan kenyamanan sesaat yang sebenarnya menghancurkan diri dan "hidup"nya.

Hanya dengan "taubat" yang sejati kita dapat menuju kebahagiaan yang besar dan hakiki. Allah menjamin hal tersebut dengan firmannya  dalam Al-Qur'an Surat An-Nuur Ayat 31: ".... dan ber"taubat"lah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung".

Ber"taubat" itu "indah", karena sejatinya "taubat" adalah kembali kepada Allah SWT. Kebahagiaan akan meliputi orang-orang yang "taubat" kepada Allah SWT. Kebahagiaan "taubat" ini sukar dirasakan oleh orang-orang yang tidak merasakannya.Hanya orang-orang yang bersangkutanlah yang benar-benar dapat merasakannya. Janji Allah adalah benar, dan kebahagiaan tersebut bukan hanya kebahagiaan yang bersifat dunia saja. Namun juga surga-Nya yang luas seluas langit dan bumi.

Coba tanyakan saja dan banyak-banyaklah berbincang dengan orang-orang yang sudah menjalani "taubat". Kebanyakan mereka merasakan bahagianya kembali pada ajaran Allah SWT. Karena pada hakekatnya semua ajaran yang Allah berikan pada kita itu tujuannya adalah untuk kebahagiaan manusia itu sendiri. Apabila Allah menyuruh sesuatu, pasti untuk kebahagian manusia . Jika Allah melarang sesuatu pasti karena hal tersebut dapat mencelakakan manusia. Allah selalu memberi kepada kita yang terbaik. 

Sumber:
1. Orang Berdosa rindukan Surga. Oleh: Syailendra Putra. Penerbit Pustaka Widyamara.

Sabtu, 31 Maret 2012

"Keutamaan Membaca Surat At-Tabaarak"

"Surat At Tabaarak"  adalah nama lain dari "Surat" Al-Mulk (Surat ke-67 dari Al-Qur'an), yang berarti kerajaan." 


Dinamakan "Surat At Tabaarak" diambil dari kata "Tabaarak" yang terdapat pada ayat pertama  "Surat" ini  yang berarti Maha Suci. "Surat" ini  tergolong "Surat" Makkiyah, terdiri atas 30 ayat.

Berkata Imam Ahmad: Telah menceritakan kepadaku Hajjaj bin Muhammad dan Ibnu Ja'far, keduanya berkata: Telah menceritakan kepadaku Syu'bah dari Qatadah dari 'Abbas al Jusyami dari Abu Hurairah dari Rasulullah SAW., beliau bersabda:

"Sesungguhnya ada satu "Surat" yang berjumlah tiga puluh ayat yang memberikan syafa'at kepada yang menghafalkannya sampai ia diampuni, itu adalah Surat "At Tabaarak" (Al Mulk)."
Hadits di atas diriwayatkan oleh penyusun kitab Sunan yang empat dari hadits Syu'bah. Dan Imam at Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih."(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya, kitab ash Shalah bab Ayat AyatAl Qur'an (II/57, no. 1400); at Tirmidzi dalam Sunannya, kitab Keutamaan Al Qur'an bab Keutamaan "Surat" Al Mulk (V/151, no. 2890); an Nasa-i dalam Sunannya, kitab 'Amalul Yaum wal Lailah bab Keutamaan Membaca Surat at Tabaarak (al Mulk), hal. 433, no. 310; Ibnu Majah dalam Sunannya kitab Adab, bab Pahala al Qur'an (II/1244, no. 3786), Ahmad dalam Musnad (II/299), al Hakim dalam al Mustadrak (II/398), dan beliau berkata, "Hadits ini sanadnya shahih hanya saja Imam al Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya."Dan disepakati oleh Imam adz Dzahabi).

Imam ath Thabrani dan al Hafizh adh Dhiya' al Maqdisi meriwayatkan dari jalan Salam bin Miskin dari Tsabit dari Anas, ia berkata, "Rasulullah SAW., bersabda,

"Ada satu "Surat" dalam Al Qur'an yang akan berdebat membela yang menghafalkannya sehingga akan bisa memasukkannya ke dalam Surga, yaitu "Surat At Tabaarak" (al Mulk)."

Hadits ini disebutkan oleh Imam as Suyuthi dalam ad Durrul Mantsur (VI/246), al Haitsami dalam Majma'uz Zawaa-id (VII/1231) dari Anas bin Malik. Beliau berkata, "Diriwayatkan oleh Imam ath Thabrani dalam al Mu'jamush Shaghiir dan al Mu'jamul Ausath dan para perawinya adalah para perawi shahih.").
Dari Ibnu Mas'ud ra. berkata: Rasulullah SAW. bersabda, "Surat Tabaarak" (Al Mulk) adalah penjaga dari azab kubur." (Diriwayatkan oleh Hakim dan Abu Na'im, Hadis di atas sahih).
Dari Ibnu Abbas r.a berkata : Seorang laki-laki mendirikan kemah diatas kuburan yang tidak disadarinya. Lalu ia mendengar suara manusia tengah membaca "Surat" Al-Mulk / "At-Tabaarak" hingga selesai. Lalu ia mendatangi Rasulullah SAW. dan menceritakan kejadiannya “Wahai Rasulullah saya mendirikan kemah di atas sebuah kuburan, tapi saya tidak menyadari kalau itu adalah kuburan. Lalu saya mendengar suara seseorang tengah membaca "Surat" Al-Mulk hingga selesai. Rasulullah saw. bersabda “Itu adalah penghalang yang akan menyelamatkan pemiliknya dari azab kubur.”
Salah satu hadist dalam kitab Riyadlus Shalihin:
”Barang siapa membaca tiga puluh ayat "Surat At-Tabaarak", maka ia akan mendapatkan syafaat, sehingga diampunilah dosa-dosanya.”


Salah satu keterangan dalam Kitab Ruhul Ma’ani menceritakan, satu hari Rasulullah bersama para sahabat melakukan ziarah di makam para syuhada. Di tengah-tengah ziarah, Umar bin Khathab mendengar suara seseorang yang sedang membaca sebuah "Surat". Sahabat Umar pun berusaha mencermati bacaan itu. Beberapa saat kemudian, ia menyadari bahwa "Surat" yang didengarnya adalah "Surat At-Tabaarak". Beliau lantas mencari asal suara itu. Alangkah terkejutnya beliau saat tahu bahwa suara itu ternyata berasal dari balik makam seorang sahabat yang telah lama meninggal. Sungguh, ini hal yang aneh bagi sahabat Umar. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mati dan dikubur sekian lama masih bisa melantunkan ayat-ayat al-Qur’an di liang kuburnya? Umar bin Khathab pun menemui Rasulullah, menyampaikan keanehan yang baru saja dialaminya. Mendengar penuturan sahabat Umar, Rasulullah SAW. tersenyum. Beliau menerangkan, semasa hidupnya sahabat tersebut selalu istiqomah membaca "At-Tabaarak" setiap hari. Allah pun meridhai dan memberinya kemurahan untuk terus istiqamah hingga di alam kubur.
Referensi:
1. id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Mulk
2. saga-islamicnet.blogspot.com › kajian
3. id.shvoong.com/.../1967070-keutamaan-beberapa-surat-dan-ayat/
4. tarisya-tarisya.blogspot.com/p/keutamaan-surat-al-mulk.html 
5. ulfatkhan.wordpress.com/2009/11/21/motivator-2/ 

Sabtu, 24 Maret 2012

"Taubat Untuk Menggapai Surga"

"Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail."


Apakah orang yang berdosa berhak memasuki "Surga"? Jelas, berhak! Namun, sebelum memasuki "Surga", diri orang berdosa harus terlebih dahulu dicuci. Dicuci dengan apa? Dengan "Taubatun" Nashuha atau "Taubat" sebenarnya. Allah telah menjamin dalam Al-Qur'an akan memberikan "Surga" dan kemuliaan bagi orang yang ber"Taubat" dan kembali ke jalan Allah.

Pintu "Taubat" menuju "Surga" masih terbuka selagi nyawa belum dicabut oleh Malaikat Izrail. Artinya, selagi kita masih diberi nafas dalam kehidupan ini, pintu "Taubat" masih dibuka oleh Allah.

Jadi, untuk dapat menggapai "Surga", seseorang harus ber"Taubat" kepada Allah atas dosa-dosanya dan kembali ke jalan Allah. Serta dengan semangat berusaha untuk memiliki amalan unggulan yang dilaksanakan dengan kontinyu.

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.

"Salah Satu Kisah Hidup Ahli Surga"

"Salah satu kunci yang membuat Sahabat Nabi Muhammad SAW. sebagai "Ahli Surga" adalah mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan orang lain dan tidak pernah menyimpan dendam."


Pada suatu ketika, pada zaman  Rasulullah  SAW. ketika  sedang  berkumpul dengan  para  sahabat, lewatlah  seorang sahabat lain. Kemudian Rasulullah SAW. segera berkata kepada para sahabatnya yang sedang mengelilinginya, "Dia (maksudnya yang baru lewat itu) adalah "Ahli Surga". Lalu ada seorang sahabat lain yang penasaran, apa gerangan amal istimewa sahabat itu sampai-sampai Rasulullah menyebutkan bahwa dia adalah "Ahli Surga".

Maka berangkatlah sahabat yang ingin tahu tersebut ke rumah sahabat yang dikatakan sebagai "Ahli Surga". Supaya penyamarannya tidak terbongkar dia membuat alasan kepada tuan rumah. dikatakannya bahwa dia sedang berselisih paham dengan keluarganya, dan untuk itu bersumpah tidak bertegur sapa selama 3 hari dengan sang ayah. Sahabat yang disebut "Ahli Surga" itupun dengan senang hati menerima kedatangannya dan segera memperlakukan dia sebagai tamu yang harus dihormati sebagaimana mestinya.

Misi pun berjalan. Sang sahabat segera mengadakan aksi intelegennya terhadap sahabat "Ahli Surga". Semua perilaku "Ahli Surga" tersebut diamati sampai yang sekecil-kecilnya. Semua ibadahnya baik siang maupun malam, tak terkecuali ketika sedang berdagang di pasar di siang hari maupun malam. Tidak ada yang luput dari pengamatannya. Atas rasa penasarannya apakah amalan istimewa yang dilakukan sahabat "Ahli Surga" sehingga Rasulullah memberinya gelar "Ahli Surga".

Namun, sampai hari ketiga sahabat yang menyeidiki sahabat "Ahli Surga" belum berhasil menemukan amalan apa yang istimewa pada diri "Ahli Surga" ini. Dalam pandangannya, sahabat "Ahli Surga" ini tidak memiliki amalan istimewa tertentu. Ibadahnya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Malah dia kadang melihat "Ahli Surga" ini tidur sampai Subuh dan tidak melaksanakan Tahajud. Malah, menurut sang sahabat, rasanya banyak sahabat yang lebih baik ibadahnya dari segi kuantitas dari pada "Ahli Surga" ini.

Pada hari ketiga, sahabat ini buka kartu kepada tuan rumah. Dikatakannya, bahwa dia sebenarnya tidak saling berjauh-jauhan dengan orang tuanya, tetapi hanya ingin menyelidi sahabat tersebut. Namun, ketika dia bertanya apakah amalan unggulan yang dimilikinya, dia menjawab tidak ada. Lalu sang sahabat yang kecewa karena berharap tahu tersebut segera pamit ingin pulang. Tapi, baru beberapa langkah keluar dari pintu rumah sahabat "Ahli Surga", sahabat "Ahli Surga" memanggil. "Tunggu dulu", kata sahabat "Ahli Surga". "Memang aku tidak mempunyai amalan yang istimewa yang membuatku berbeda dengan sahabat-sahabat yang lain. Namun, aku mempunyai satu kebiasaan. Setiap malam menjelang tidur aku tak pernah mengingat-ingat kesalahan kaum muslimin yang lainnya. Aku memaafkan dan mengikhlaskan kekeliruan-kekeliruan mereka padaku. Aku tak pernah menyimpan dendam kepada saudara-saudara muslim."

Tercenganglah sahabat ini mendengar ungkapan tersebut. Ini dia jawabannya yang selama ini membuat dia penasaran. Ternyata inilah kunci yang membuat sahabat itu dikategorikan sebagai "Ahli Surga". Hanya dengan mengikhlaskan dan tidak menyimpan dendam. Sederhana, namun ini hal yang sulit. Coba bayangkan saja, siapa yang gampang berlapang dada dan memaafkan ketika ada orang lain menyakitimya? Bukan hal yang mudah memaafkan orang yang sudah mendzalimi kita begitu saja. Namun inilah yang menjadi amal unggulan sahabat tersebut. Dan itu juga yang mengantarkannya menjadi "Ahli Surga".

Referensi: "Orang Berdosa Rindukan "Surga". Oleh Syailendra Putra.

Jumat, 23 Maret 2012

"Kebiasaan Berjabat Tangan"

"Setiap orang hampir dipastikan pernah "berjabat tangan" bahkan sudah menjadi budaya. Tak hanya sekedar memegang atau meremas "tangan" lawan, sentuhan yang diberikan pun menyiratkan makna tersendiri".


Dua orang yang saling "berjabat tangan" bisa bersentuhan dengan tingkat yang sama. Apakah ketika "berjabat tangan" Anda melakukannya dengan derajat yang sama? "Jabat tangan" Anda dapat di analisa, kualitas sentuhan bisa bermacam-macam, mulai dari cinta sampai kebencian; keduanya bisa cukup bergairah dan panas! Sentuhan yang kurang melibatkan perasaan jauh lebih dingin tetapi sentuhan yang diberikan kepada kita tetap saja memberikan semangat hidup.

Mengapa "kebiasaan" melakukan "jabat tangan" sangat dianjurkan? Rasulullah SAW. mencontohkan ketika bertemu dengan saudara kita sesama muslim, maka hendaklah kita melakukan "jabat tangan" karena "berjabat tangan" itu bisa menggugurkan dosa-dosa. Dengan catatan laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Riwayat Abu Daud, dari al-Barra’ r.a. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “(Apabila ada) dua orang Islam yang bertemu kemudian mereka "berjabat tangan", maka dosa kedua orang tersebut akan diampuni sebelum keduanya berpisah (melepaskan "tangan" mereka)”. 

Hadits Riwayat Tirmidzi: 4680, al-Shahihah: 160. Hadits Hasan, menjelaskan Hadits Anas ra. dia berkata: "Seseorang bertanya: Ya Rasulallah sesorang dari kami bertemu saudaranya atau temannya, apakah ia membungkuk kepadanya? Beliau menjawab: Tidak." Lalu apakah memeluknya dan menciumnya? Beliau menjawab: "Tidak." Lalu apakah mengambil "tangan"nya dan men"jabat"nya? Beliau menjawab: 'Ya'."
"Jabat tangan" secara psikologis akan mengeratkan hubungan kita. Bahkan persentuhan secara fisik adalah saat hubungan yang dekat antara satu orang dengan orang lain terjadi. Bayangkan saja ketika kita baru bertemu orang yang belum dikenal, kemudian tiba-tiba tersenyum, "berjabat tangan", dan menyapa, pasti kita akan merasa senang dan nyaman dengan sambutan sehangat itu.

Kemudian apa hubungannya antara "jabat tangan" dengan dosa? Pada saat kita "berjabat tangan" dengan orang lain, saat itu kita menyatakan hubungan yang dekat dengan seseorang. Dan setan paling benci dengan hal tersebut. Setan paling benci dengan persaudaraan. Setan paling benci dengan hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Setan akan berusaha mengobok-obok hubungan persaudaraan sesama muslim. Apabila melihat orang-orang yang saling bermusuhan, setan akan bertepuk "tangan". Apabila orang-orang saling membenci, setan tertawa. Namun begitu melihat ada orang "berjabat tangan", setan akan sangat marah.

Jangan anggap remeh ke"biasa"an "berjabat tangan" dengan orang lain.  "Kebiasaan" "berjabat tangan" sangat sederhana. Mem"biasa"kannya juga tidak memerlukan energi yang besar. Cobalah untuk sering-sering "berjabat tangan" dengan orang lain. Apalagi dengan sesama saudara yang jarang bertemu. Terkadang "jabat tangan" hanya dianggap formal dan tidak diresapi maknanya. Jadilah orang yang terlebih dahulu mengulurkan "jabat", bukan yang menunggu uluran "tangan" orang lain.

Agar anda tidak menampilkan kesan yang salah di mata orang yang "berjabat tangan" dengan anda, terutama ketika interview, berikut adalah teknik dan etika "berjabat tangan" secara efektif.
  • Tataplah mata pasangan lawan anda saat "berjabatan tangan" dengannya. Tidak ada hal lebih yang memberikan kesan mengacuhkan, selain "jabatan tangan" tanpa tatapan mata. Bila anda men"jabat tangan" tanpa menatap pasangan lawan, menunjukkan rasa tidak hormat, tidak peduli, acuh dan cuek. Maka, "jabat"lah "tangan" lawan bicara anda dengan menatap mata lawan bicara, sehingga anda dianggap sebagai orang yang punya rasa hormat, peduli, sopan dan juga santun. Inilah etika "berjabat tangan".
  • "Berjabat tangan"lah dari telapak ke telapak. Jika anda melakukan "jabat tangan" dengan berlebihan, seperti menarik "tangan" lawan dan mengayunkan ke atas bawah dengan keras, hal ini sama saja menunjukkan ’dominasi’ atau ’mulut besar’. "Berjabat tangan"lah dengan pas, tidak keras tapi juga tidak terlalu lunak.
  • Jika anda memiliki keyakinan yang tidak membolehkan menyentuh "tangan" lawan jenis, lakukan jenis penghormatan menurut kebiasan yang biasa anda lakukan. Seperti di adat sunda, dengan mengatupkan ke dua lengan di depan dada, atau juga dengan model membungkuk badan seperti kebiasaan orang jepang. Orang akan menghormati anda karena itu merupakan masalah keyakinan. Bisa juga dilakukan, bila memang anda sedang mengalami gangguan pada "tangan", atau radang sendi. Utarakan pada lawan bicara anda, dengan didahului permintaan maaf karena tidak bisa "berjabat tangan" secara normal.
  • Pekalah terhadap situasi dan kondisi, misalnya bila lawan bicara kita memiliki keterbatasan fisik. Jika lawan bicara memiliki cacat pada tangan, gangguan tulang atau artritis, atau misalnya duduk di kursi roda, jangan memaksakan diri untuk "berjabat tangan". Melukai seseorang karena "berjabat tangan" justru akan menutup pintu hubungan komunikasi.
  • Ciptakan "jabat tangan" yang hangat dan memberi kesan makna mendalam. Jika anda "berjabat tangan" lalu segera menarik "tangan" anda kemudian berbicara seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa, maka lawan bicara anda akan menganggap anda sebagai orang yang tidak tulus dan berarti. Karena itu, biarkan "berjabat tangan" sambil memberikan perhatian kepada lawan bicara anda, bisa dengan tatapan mata atau pembicaraan singkat/ringan sebelum menarik "tangan" anda. Ini memberikan kesan anda adalah orang yang punya perhatian.

    Masih banyak cara "berjabat tangan" yang lain, tetapi kebanyakan tidak bermakna khusus selain ungkapan kegembiraan dan keakraban, terutama "jabat tangan" di kalangan anak-anak muda. Jadi dengan memperhatikan cara seseorang "berjabat tangan", sedikit banyak Anda bisa mengetahui sifat dan maksud orang itu. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengetahui bagaimana kita sendiri "berjabat tangan", amatilah diri Anda dan setelah itu kalau perlu ubahlah dengan gaya yang paling baik, dan lambat laun bawah sadar Anda akan terpengaruh dan akhirnya pembawaan Andapun akan berubah.
    Referensi:
    1. Orang Berdosa Rindukan Surga. Oleh: Syailendra Putra.
    2. chaidirwahyudi.dagdigdug.com/about/  
    3. ahsan.tv/.../78-hadits-"jabat-tangan"-dan-saling-berpelukan-saat-bertem... 
    4. pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/makna-"jabat-tangan"/ 

Kamis, 22 Maret 2012

"Kebiasaan Istighfar"

"Karakter "Istighfar" harus kita bangun dengan penuh kesungguhan Menyadari bahwa kita sangat mungkin melakukan dosa setiap hari, maka kita harus mencari obat untuk menghapus dosa-dosa tersebut."



Allah berfirman dalam  Al-Qur'an Surat Nuh Ayat 10-12: Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun ("istighfar") kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.”

"Kebiasaan" untuk mengucapkan "Istighfar" harus dibudayakan setiap hari sebagaimana yang telah diajarkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Mem"biasa"kan diri untuk mengucapkan "Istighfar" atas dosa-dosa dapat kita lakukan mulai dari hal yang paling sederhana. Hal yang paling praktis adalah melalui shalat. Setiap selesai shalat, kita mengucapkan "Istighfar", memohon ampunan atas segala kesalahan yang telah kita perbuat baik dengan sadar maupun tidak. Apabila setiap kali selesai shalat kita mengucapkan 10 kali "Istighfar", maka dalam sehari semalam kita telah mengucapkan "Istighfar" sebanyak 50 kali.

Hari berikutnya, kita dapat mengucapkan lebih banyak lagi. Apabila sudah menjadi karakter, secara otomatis kita dapat mengucapkan "Istighfar" ketika dimanapun kita berada, misalnya dalam perjalanan menuju tempat kerja, ketika dalam kendaraan, ketika sedang menunggu seseorang, ketika mengerjakan pekerjaan rumah dan sebagainya.

"Karakter "Istighfar" harus kita bangun dengan penuh kesungguhan Menyadari bahwa kita sangat mungkin melakukan dosa setiap hari, maka kita harus mencari obat untuk menghapus dosa-dosa tersebut."

Ada satu tips lagi untuk membudayakan "Istighfar". Tutuplah setiap hari anda dengan "Istighfar". "Biasa"kanlah setiap malam menjelang tidur mengucapkan "Istighfar", dan berharap supaya Allah SWT. membuka pintu ampunan-Nya terhadap dosa-dosa yang telah kita perbuat. 

Makna "istighfar" sebagai penghapus dosa itu benar adanya. Tapi sudut pandang itu terlalu sempit. Cobalah menggali lebih dalam indahnya "istighfar". Sebab seandainya masalah itu penyakit, "istighfar" adalah obat yang mujarab. Jika sudah ada obatnya, gratis pula mengapa kita tidak menikmatinya.

Hadits Riwayat Ahmad, menjelaskan, bahwa: "Barangsiapa yang banyak ber"istighfar", Allah akan membebaskannya dari berbagai kedukaan. akan melapangkannya dari berbagai kesempitan hidup, dan memberinya curahan rezeki dari berbagai arah yang tiada diperkirakan sebelumnya."

Hadits Riwayat.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad, menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa ber"istighfar", maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka”.  

Membaca "Istighfar" merupakan sedekah. Dengan memperbanyak mengucapkan "Istighfar", niscaya rezeki kita akan mengalir lancar. Kesedihan hati akan hilang, digantikan kelapangan dada menerima takdir Allah. Tentunya setelah kita berikhtiar (berusaha keras). Dan yang perlu anda ketahui bahwa "Istighfar" membuat Allah senang apalagi kalau kita menjadikan "Istighfar" sebagai kegiatan  rutinitas harian kita.
div class='clear'>