Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label HISTORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HISTORY. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

"MISTERI KEHIDUPAN MANUSIA DI BAWAH TANAH"

 

"Legenda menyebutkan ada kehidupan di "bawah tanah", dan pintu masuknya terletak di kutub utara". 


Legenda itu muncul sejak zaman Plato yang berkeyakinan, bahwa di dalam bumi penuh dengan terowongan dan lubang. Apakah legenda itu benar?

Pemikiran adanya lubang di perut bumi sangat popular di antara penulis “science fiction”. Bahkan beberapa penulis menunjukkan perhitungan estimasinya serta eksperimen untuk membuktikan planet bumi, memiliki lubang di dalamnya. Lalu apakah “science fiction” itu benar?
 
Doktor Ilmu Geologi dan mineral dari Russian Academy of Natural Sciences, Mark Sadikov mengatakan, "manusia" tidak akan bisa masuk ke dalam perut bumi, karena tidak ada lubang di kutub utara. Wilayah di utara merupakan zona laut dalam, dan terdapat palung di beberapa bagiannya.

Pejabat riset di Arctic and Antarctic Research Institute, Maria Gavrilo juga mengatakan, tidak pernah mendapatkan lubang di wilayah utara saat melakukan riset di wilayah tersebut. Bahkan, wilayah kutub utara sendiri merupakan lautan yang tertutup es secara penuh.

Di abad 21, kemungkinan adanya lubang itu diteliti kembali. Pakar pendukung teori lubang bumi menyebutkan medan magnet yang berbeda-beda sebagai indikasi. Mereka juga merujuk pada sinar aurora yang merupakan gas yang muncul di kutub.

Pendukung teori itu menyebut, kompas selalu bertingkah aneh saat mendekati kutub. Banyak peneliti juga menyebutkan angin hangat sering berhembus dari kutub utara yang kemungkinan berasal dari lubang besar yang ada di sana.

Maria Gavrilo membantah teori medan magnet. Ia menyebut medan magnet di kutub utara dan selatan terus bergerak meluas. Penelitian di dua kutub itu menunjukkan keduanya tidak stabil dan berpindah secara aktif.

Sementara munculnya aurora polaris merupakan fenomena unik yang dihasilkan oleh atom di bagian atas atmosfer. Aurora itu berbetuk zona oval di atas kutub.

Astronot dari ruang angkasa bisa mengamati bumi berpendar seperti halo di bulan. Namun, dari bumi cahaya itu hanya bisa dilihat di kutub. Aurora polaris bisa sangat besar diakibatkan oleh pengaruh interferensi sinyal radio.

Peneliti mengatakan, merupakan sesuatu yang normal kompas menjadi tidak terkendali saat mendekati kutub. Hal itu, karena medan magnet bumi sangat kuat di dekat kutub dan penunjukkan kompas yang tak karuan adalah usaha untuk menunjuk ke suatu arah tertentu.

Mayoritas ide lubang di dalam bumi lebih banyak berdasarkan asumsi dan bukan data ilmiah. Menurut penelitian, lubang yang mungkin ada hanya gua karst. Kehidupan di dalam bumi juga tidak mungkin, karena tidak cukup ruangan di bawah permukaan bumi.

Kedua tekanan dan suhu naik drastis di kedalaman tertentu. Saat tambang dibuat lebih dalam dari satu kilometer di Afrika, tempat itu harus dilengkapi pengatur suhu karena ruangan menjadi sangat panas.

Pendukung lubang di dalam bumi menyatakan, seharusnya planet memiliki bobot lebih besar jika tidak ada lubang. Tapi Maria Gavrilo mengatakan, saat menghitung berat bumi harus berdasarkan massa yang bukan diam tapi bergerak. Jika kenyataan itu diabaikan, maka penghitungan oleh peneliti akan mendapatkan hasil yang salah.

Teori planet bumi berlubang ini akan terus menjadi misteri. Karena hingga kini, lapisan bumi yang disebut lithosphere masih misteri, dan tidak ada orang yang tahu apa yang ada di dalam lapisan yang lebih dalam dari lapisan itu.

(aneka-beritaunik.blogspot.com/.../ha-ji-won-aktris...)

Sabtu, 12 Mei 2012

"Makam Sultan Hasanuddin - Makassar Sulawesi Selatan"

"Lokasi "Makam" atau pesarean Pahlawan Nasional "Sultan Hasanuddin" ini  di Kompleks Pe"makam"an Jl. Palantika, Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa Makassar Sulawesi Selatan". 


"Makam" ini merupakan kompleks pe"makam"an raja-raja Gowa. Di atas "makam" beliau tertera nama gelar Sang Raja Gowa ke-16 ini, yaitu "Sultan Hasanuddin": Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Mohammad Bakir Tumenanga Ribulla Pangkawi. Sedangkan di sebelah kiri depan kompleks pe"makam"an ini terdapat sebuah batu yang bernama 'Tomanurung' atau 'Batu Pelantikan' untuk pelantikan raja-raja Gowa. Kerajaan atau Ke"sultan"an Gowa memiliki 36 raja yang berkuasa sejak berdirinya tahun ke-1300 Masehi. 

Guide kami sedikit menjelaskan tentang sejarah "Sultan Hasanuddin". "Sultan Hasanuddin" lahir di Makassar Sulawesi Selatan, pada tanggal 12 Januari 1629 dan wafat pada usia 30 tahun di Makassar juga pada tanggal 12 Juni 1670.  "Sultan Hasanuddin" adalah Raja Gowa ke 16, lahir dengan nama I Mallombasi Mohammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, "Sultan Hasanuddin" mendapat tambahan gelar "Sultan Hasanuddin" Tmenanga Ri Balla Pangkana, namun beliau lebih dikenal dengan "Sultan Hasanuddin" saja.  Pada usia 24 tahun (tahun 1655), "Sultan Hasanuddin" diangkat menjadi "Sultan" ke 16 Kerajaan Gowa. Belanda memberi gelar kepada "Sultan Hasanuddin": de Haav van de Oesten artinya Ayam Jantan dari Timur, karena kegigihan dan keberaniannya dalam melawan Kolonial Belanda. 
"Sultan Hasanuddin", adalah putera kedua dari "Sultan" Malikussaid, Raja Gowa ke 15. "Sultan Hasanuddin"  memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah Timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, Kompeni di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, namun belum berhasil menundukkan Kerajaan Gowa. Di pihak lain, setelah "Sultan Hasanuddin" naik tahta, "Sultan Hasanuddin" berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian Timur untuk melawan Kompeni.

"Sultan Hasanuddin" adalah seorang Pahlawan Nasional yang sangat gigih menentang penjajah Belanda. "Makam" "Sultan Hasanuddin" berlokasi di kompleks pe"makam"an raja-raja Gowa di Katangka Somba Opu Gowa Makassar Sulawesi Selatan. Di kompleks pe"makam"an ini juga di"makam"kan "Sultan" Alauddin (Raja yang mengembangkan agama Islam pertama di Kerajaan Gowa). Dari tulisan yang terukir di "makam"nya, "Sultan Hasanuddin" lahir tahun 1629, menjadi raja tahun 1652, meletakkan jabatan tahun 1668 dan wafat tanggal 12 Juni 1670. Di "makam" "Sultan Hasanuddin" tertera nama Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe Mohammad Bakir yang merupakan nama kecil "Sultan Hasanuddin".

Setelah rombongan kami puas di kompleks pe"makam"an "Sultan Hasanuddin", kami segera melanjutlan perjalanan wisata kami ke Trans Studio. Namun sebelumnya kami menikmati wisata kuliner, rombongan kami makan siang terlebih dahulu di Sop Konro Ratulangi. Namun, menurut saya secara pribadi, rasanya kayaknya lebih sedap Sop Konro yang ada di Perak Surabaya. Saya kira hal ini hanya masalah selera, karena saya orang Jawa Timur, sehingga lidahnya lebih cocok kalau makan Sop Konro yang ada di Jawa Timur.


PERUSAKAN "MAKAM" "SULTAN HASANUDDIN".

Polisi Fokus Buru Pelaku Perusakan Makam Sultan HasanuddinPada hari Kamis 24 Mei 2012, terjadi perusakan pada "makam" "Sultan Hasanuddin". Diduga, pelaku perusakan lebih dari satu orang. Perusakan itu terjadi sekitar pukul 08.00 Wita. Beberapa prasasti dan tugu yang berbentuk ayam jantan itu jatuh menimpa nisan kuburan yang terbuat dari batu zaman dulu. Bahkan, cincin dan permata imitasi yang tidak bernilai raib dibawa pelaku.

Perusakan "Makam" Raja Gowa "Sultan Hasanuddin" di Lakiong, Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) terus mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Oknum pelaku perusakan "Makam" Pahlawan Nasional "Sultan Hasanuddin" yang terletak di desa Palangtikang "makam" raja-raja Gowa di Kecamatan Somba Opu terus dikejar. "Kami fokus melakukan penyelidikan terhadap pengrusakan situs budaya bersejarah "Makam" "Sultan Hasanuddin" yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab itu," kata Kapolres Gowa AKBP Totok Lisdiarto di Gowa, Kamis (24/5).

"Makam" raja Gowa ke-16 tersebut bukan hanya milik orang Gowa, atau Sulsel, tetapi sudah milik dunia, yang perlu dijaga dan dilestarikan. Karena itu merupakan cagar budaya yang tak ternilai harganya. Begitu juga "makam" Raja Bone Arung Palakka bukan lagi milik orang Bugis, tapi milik kita semua," ujar Syahrul menjelaskan kepada wartawan dalam kunjungannya ke "Makam" Raja Gowa, Sabtu (26/5/2012).

Abdul Halim penjaga "makam" "Sultan Hasanuddin" mengatakan, peristiwa itu baru pertama kali terjadi. Ia menceritakan perusakan "makam" tersebut baru diketahui ketika dirinya. seperti biasa. masuk ke "Makam" di pagi hari. Ia melihat "Makam" "Sultan Hasanuddin" sudah rusak.

"Pagi itu saya baru masuk "makam" dan heran kenapa kunci gembok rusak, setelah saya periksa ke dalam ternyata "makam" "Sultan Hasanuddin" ada yang merusaknya. Lalu saya memanggil orang kemudian saya melapor ke polisi," katanya.

Dia menguraikan, setelah diperiksa, cincin dan permata imitasi yang tidak bernilai hilang, kemudian prasasti dan tugu berlambang ayam jantan di atas "makam" rusak dan jatuh ke tanah menimpa nisan.

"Saya tidak mengetahui motifnya apa, apakah pencurian, kesengajaan atau lainnya, biarkan yang berwajib menyelidiki hingga tuntas," tutur pria yang sudah bekerja menjaga "makam" selama 10 tahun itu.

Sumber:
1. jakarta.okezone.com/.../perusakan-makam-sultan-hasanuddin-tak-bis...
2. oase.kompas.com/.../Budayawan.Sesalkan.Pengrusakan.Makam.Sulta...
3. www.republika.co.id › NasionalNusantara

Jumat, 27 April 2012

"Syekh Abu Syamsudin/Su'adi (Buju' Lathong)"

"Syekh Abu Syamsudin" yang bernama asli "Su'adi" adalah putra tunggal dari "Syekh" Basyaniyah (putra kedua dari "Syekh" Abdul Mannan/"Buju" Kosambi)".


Jadi "Syekh Abu Syamsudin" adalah cucu dari "Buju'" Kosambi. Kisah hidup "Syekh Abu Syamsudin" tidak berbeda dengan ayahanda dan buyutnya, yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah tempat dalam melakukan pertapaannya. Salah satu tempat pertapaan "Syekh Abu Syamsudin" ditemukan di dekat kampung Aeng Nyono'  yang berada di tengah hutan yang cukup lebat. Merupakan tempat yang sangat bagus untuk bertapa, karena hutan tersebut memang belum terjamah tangan manusia dan karena tempat itu sering digunakan orang untuk bertapa, maka penduduk sekitar menamakan kampung itu dengan sebutan Kampung Pertapaan.

Begitu juga Bukit yang ada di kampung Aeng Nyono', menjadi salah satu tempat bertapanya "Syekh Abu Syamsudin", serta disana terdapat sebuah Kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia hingga sekarang. Tepat di sebelah Barat tempat "Syekh Abu Syamsudin" bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon, "Syekh Abu Syamsudin" mencelupkan tongkatnya ke dalam sumber itu, lalu ditariknya tongkat beliau menuju bukit pertapaan dan air sumber itupun mengikuti arah tongkat sampai akhirnya mengakir ke atas bukit hingga kini. Sungguh ini merupakan karunia kebesaran dari Allah dan jauh di luar akal manusia. Allahu Akbar....... Atas dasar keajaiban inilah yang menjadi asal usul nama Kampung Aeng Nyono' (Bahasa Madura) artinya air yang menyelinap/mengalir ke atas dan konon air itu digunakan oleh "Syekh Abu Syamsudin" untuk berwudhu.

"Syekh Abu Syamsudin" semasa hidupnya selalu mendapat ujian dan cobaan yang bertubi-tubi, namun  "Syekh Abu Syamsudin" menerimanya dengan ikhlas dan sabar. Semakin tinggi iman dan taqwa seseorang semakin berat dan bertambah pula cobaannya, sedang "Syekh Abu Syamsudin" sadar akan hakekat hidup  dan fenomena yang ada di dalamnya, sehingga kesadarannya itulah yang membuat iman "Syekh Abu Syamsudin" semakin mengkristal dan menjadikan jiwanya semakin tenang serta kehidupan sehari-harinya begitu tentram bersama keluarganya dan masyarakat di sekitarnya. Hal inilah yang membuat "Syekh Abu Syamsudin" menjadi panutan masyarakat di sekitar serta membuat nama "Syekh Abu Syamsudin" semakin harum dan amat disegani, Selain itu  karena ketabahan dan kesabarannya, "Syekh Abu Syamsudin" dianugerahi oleh Sang Khaliq Ilmu Karomah yang tinggi.
Namun, betapapun baiknya "Syekh Abu Syamsudin", masih saja ada yang membenci dan memusuhinya karena iri dan dengki terhadap kelebihan yang dimiliki oleh "Syekh Abu Syamsudin". Salah seorang yang sangat membenci "Syekh Abu Syamsudin" adalah "Buju'" Sarabe ("Buju'" Gunung Perahu).  Pada suatu saat "Buju'" Sarabe bersama komplotannya merencanakan sebuah misi jahat, yakni akan menghabisi "Buju'" Kalampok, yaitu seorang sesepuh dari Dusun Kalampok yang mungkin menjadi panutan masyarakat setempat. Sesampainya disana mereka langsung mencari "Buju'" Kalampok, dan setelah ditemukan tanpa banyak bicara langsung dibunuhnya, seperti layaknya membunuh binatang. Setelah menghabisi "Buju'" Kalampok dengan keji, mereka putar haluan menuju Batu Ampar dengan tujuan ingin menguji sekaligus berniat membunuh "Syekh Abu Syamsudin". Sesampainya di tempat tujuan, di depan rumah "Syekh Abu Syamsudin" , mereka siap-siap untuk membumi-hanguskan kediaman dan menyeang "Syekh Abu Syamsudin".......... Namun apa yang terjadi? Ketika mereka akan mencabut sebnjata mereka, seperti kering, celurit dan tombak, semua benda itu lenyap tinggal tempat dan rangkangnya. Melihat itu mereka terperanjat bukan main dan seketika itu kawanan pengacau tersebut tunduk bersimpuh seraya mohon ampun di hadapan "Syekh Abu Syamsudin". Mereka mengaku kalah serta memohon agar senjata mereka yang lenyap dikembalikan dan mereka bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatan nista itu lagi, jika mereka ingkar, mereka akan celaka sampai tujuh turunan. "Syekh Abu Syamsudin" mengabulkan permintaan mereka atas dasar konsekwensi yang mereka ucapkan. "Syekh Abu Syamsudin" menunjukkan letak senjata "Buju'" Sarabe dan pengikutnya yang berada di dalam "Lathong" (Bahasa Madura) yang artinya kotoran sapi. Maka dari itu "Syekh Abu Syamsudin" mendapat julukan "Buju' Lathong".

Namun tidak hanya atas kejadian itu saja "Syekh Abu Syamsudin" mendapat julukan tersebut. Kisah lain menceritakan tentang kelebihan "Syekh Abu Syamsudin", keluarnya pancaran sinar dari dadanya, dam apabila sinar itu terlihat oleh orang yang banyak melkukan dosa serta belum pernah bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau mati. Karena khawatir tentang hal itu, maka "Syekh Abu Syamsudin" menutupi dadanya dengan cara mengoleskan "Lathong" di sekitar dada beliau.

Setelah berkeluarga "Syekh Abu Syamsudin" dikaruniai tiga orang putra, yaitu bernama "Syamsudin", Luqman dan Husen. Dan sebenarnya asal nama beliau diambil dari putra pertamanya. yakni "Syamsudin", "Syekh Abu Syamsudin"  berarti Bapaknya "Syamsudin".  
Ujian dan cobaan silih berganti menghujani "Syekh Abu Syamsudin". setelah ujian satu selesai maka ujian yang lain menyusul seakan tanpa jeda. Pada masa itu wilayah Pamekasan berdirilah sebuah Kerajaan Non Islam yang megah dipimpin seorang Raja yang tidak pernah percaya kepada ajaran agama Islam. Sang Raja juga mendengar tentang kelebihan dalam hal Ilmu Karomah yang dimiliki seseorang di wilayah Batu Ampar. Namun hal itu dianggap pepesan kosong, sebelum Raja tahu dan menyaksikan dengan mata sendiri. Maka timbul niatan untuk menguji tingkat Karomah "Syekh Abu Syamsudin", dengan mengundang "Syekh Abu Syamsudin" pada acara syukuran di kerajaan yang diadakan Raja sendiri. Sang Raja juga mengundang Ulama di seluruh Madura pada masa itu.
Pada hari yang ditentukan, Sang Raja mengutus Panglima Istana untuk menjemput "Syekh Abu Syamsudin" di Batu Ampar, saat itu undangan sudah banyak yang datang. Sesampainya di Batu Ampar tepatna di kediaman "Syekh Abu Syamsudin", para pengawal itu disambut oleh "Syekh Abu Syamsudin" dan langsung dipersilahkan masuk, sesudah itu diutarakannya maksud dan tujuan kedtangan Pengawal itu, yakni bermaksud menjemput "Syekh Abu Syamsudin" atas undangan dan perintah dari Raja. "Syekh Abu Syamsudin" menolak untuk berangkat bersama Pengawal, maka dipersilahkannya para Pengawal itu untuk berangkat terlebih dahulu. Jarak antara Batu Ampar dan Kerajaan cukup jauh, tapi dengan mengendarai kuda akan lebih menghmat waktu. Begitulah yang ada di benak para pengawal Kerajaan maksudnya, agar "Syekh Abu Syamsudin" cepat sampai di Kerajaan bila naik kuda besama Pengawal Kerajaan itu, namun niat baik pengawal itu ditolak secara halus. Lalu ada apa di balik ini semua....? Tanpa pikir yang terlalu panjang, berangkatlah para Pengawal itu kembali ke Kerajaan. Sesampainya di Istana Kerajaan, para Pengawal dibuat terkejut dan terheran-heran ketika melihat "Syekh Abu Syamsudin" sudah sampai terlebih dahulu lebih lama sebelum pengawal itu datang dan "Syekh Abu Syamsudin" sudah duduk serta berbincang-bincang dengan undangan yang lain. Sungguh keistimewaan yang luar biasa atas kebesaran Allah SWT.....
Begitu acara dimulai, "Syekh Abu Syamsudin" dimohon untuk memimpin do'a, maka dipimpinnya acara syukuran itu dengan membacakan do'a dan mohon perlindungan kpada Allah SWT. Ruangan istana digegerkan oleh sesuatu yang menakubkan, seisi istana tercengang menyaksikan itu, termasuk Raja sendiri yang terbelalak matanya seakan tidak percaya, karena seluruh hidangan mewah dan lezat tampaknya yang tgersaji di hadapan para undangan untuk siap disantap, tiba-tiba berubah ke bentuk asal sebelum dimasak dan diolah sedemikian rupa. Antara lain masakan itu kembali utuh menjadi binatang anjing dan binatang haram lain. Menyaksikan hal itu, maka Raja mengakui seketika tentang ketinggian Ilmu Karonah yang dimiliki "Syekh Abu Syamsudin" atas kebesaran Allah SWT., serta yakin akan kesucian dan kemurnian Islam yang terpelihara oleh Sang Khaliq dan selamatlah orang mukmin untuk yang kesekian kali dari sesuatu yang diharamkan agama, demi kokohnya Syari'at Islam yang tetap terpelihara.

Akhirnya terbukalah hati Sang Raja atas kebesaran Allah SWT, yang ditampakkan melalui "Syekh Abu Syamsudin". Raja bersama komponen Kerajaan dan seluruh kerabatnya menemukan jalan yang terang sehingga ditinggalkannya dunia kegelapan yang penuh maksiat serta dibuangnya jauh-jauh seraya mereka semua berbondong-bondong memasuki alam yang baru nun fitrah. Semenjak itu keluarga Kerajaan mendapat bimbingan tentang ajaran Agama Islam secara langsung oleh "Syekh Abu Syamsudin". Dan untuk lebih menguatkan hubungan tali persaudaraan, Raja mengajukan permohonan atas diri "Syekh Abu Syamsudin" untuk menjadikan salah satu dari putra-putra "Syekh Abu Syamsudin" sebagai anak angkat Raja. Permohonan itupun direstui oleh "Syekh Abu Syamsudin" dan dipilihnya putra beliau yang bernama Luqman untuk dijadikan anak angkat Raja, Maka Raja pun sepakat dan diangkatlah Luqmansebagai Putra Raja. Maka semenjak itu semakin eratlah hubungan antara keluarga Kerajaan dengan "Syekh Abu Syamsudin" sekeluarga seperti halnya keluarga sendiri.

Demikianlah sebagian kecil dari kisah kehidupan "Syekh Abu Syamsudin" ("Su'adi''/"Buju' Lathong").

(Sumber: Sejarah Auliya' Batu Ampar, disusun oleh KH. Ach. Fauzy Damanhuri).

Minggu, 15 April 2012

"Kosambi = Kesambi"

"Kosambi" atau "Kesambi" (Schleichera oleosa) adalah nama sejenis pohon daerah kering, kerabat rambutan dari suku Sapindaceae."


Beberapa nama daerahnya, di antaranya "Kasambi" (Sunda); "Kesambi", "Kusambi", "Sambi" (Jawa, Bali); "Kasambhi" (Madura); "Kusambi", usapi (Tim); "Kasembi", "Kahembi" (Sumba); kehabe (Sawu); kabahi(Solor ); kalabai (Alor); kule, ule (Rote); bado (Makasar); ading (Bug).
 
Nama-nama itu mirip dengan sebutannya di India, tanah asal tumbuhan ini, misalnya: "kosam", "kosumb", "kusum", "kussam", "rusam", "puvam". Dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai gum-lac tree, Indian lac tree, Malay lac tree, Macassar oil tree, Ceylon oak, dan lain-lain. Nama-nama itu merujuk pada hasil-hasil yang diperoleh dari pohon ini, seperti lak dan minyak Makassar.

"Kosambi" (dan variasinya: "Kesambi") adalah nama sejenis pohon dalam marga Schleichera. Berasal dari anak benua India, nama tumbuhan ini dipakai pula untuk nama beberapa tempat di Indonesia dan India:
  • "Kosambi" (India), tempat ziarah umat Buddha;
  • "Kosambi" (Stasiun), stasiun kereta api di "Kosambi";
  • "Kosambi", nama desa di kecamatan Cipunegara, Subang, Jawa Barat
  • "Kosambi", nama desa di Kabupaten Karawang;
  • "Kosambi", nama kecamatan di Kabupaten Tangerang;
  • Duri "Kosambi", nama kelurahan di Jakarta Barat;
  • "Kesambi", nama kecamatan di Kota Cirebon;
  • "Kesambi", desa di kecamatan Mejobo -Kudus - Jawa Tengah;
  • "Kesambi", nama desa di kecamatan Porong - Sidoarjo - Jawa Timur;
  • "Kosambi", nama desa di kecamatan Propo - Pamekasan - Madura - Jawa Timur;
  • Buju' "Kosambi", nama (Julukan) seorang Auliya' di desa "Kosambi" Kecamatan Propo - Pamekasan - Madura - Jawa Timur; 
  • "Kosambi" juga merupakan nama keluarga dari India.  
Sumber:
1. id.wikipedia.org/wiki/Kosambi_(disambiguasi)
2. id.wikipedia.org/wiki/Kesambi
3. wiki.unnes.ac.id/articles/k/o/s/Kosambi_(disambiguasi).html 
4. id.wikipedia.7val.com/wiki/Dadap_(disambiguasi) 

Sabtu, 14 April 2012

"Buju' Kosambi - Batu Ampar Pamekasan Madura"

"Buju' Kosambi" atau Syekh Abdul Mannan adalah putera pertama dari Sayyid Husen (yaitu seorang pemuka agama Islam yang terkenal kekeramatannya di wilayah Bangkalan Madura)".


Sayyid Husen wafat akibat dibunuh oleh Prajurit Kerajaan atas perintah Raja. Sayyid Husen sebenarnya tidak bersalah, karena beliau difitnah sampai menyebabkan kematian atas diri beliau. Beliau wafat meninggalkan dua orang putera, yang pertama bernama Abdul Mannan ("Buju' Kosambi") dan yang kedua bernama Abdul Rakhman. Sejak wafat ayahnya, kedua bersaudara ini sepakat untuk lari guna menyelamatkan diri . Si bungsu (Abdul Rakhman) lari menuju Desa Bire (Kabupaten Bangkalan), beliau menetap hingga wafat disana, dan tempat terakhirnya itu terkenal dengan sebutan "Buju'" Bire (Buyut Bire). 

Sedangkan Syekh Abdul Mannan ("Buju' Kosambi"), beliau lari dan menjauhkan diri dari wilayah kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan, namun beliau menerima semua itu dengan tabah dan sabar. Hingga akhirnya, sampailah beliau di sebuah hutan lebat di tengah perbukitan di wilayah "Batu Ampar" ( Kabupaten Pamekasan ). Di hutan inilah akhirnya beliau merasakan ketenangan dalam hatinya. Kemudian di tempat ini pula beliau  bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat di bawah Pohon "Kosambi". Karena beliau bertapa di bawah Pohon "Kosambi" inilah yang akhirnya beliau dijuluki dengan "Buju' Kosambi". "Buju'" adalah Bahasa Madura yang berarti Buyut. Sedangkan "Kesambi" atau "Kosambi" (Schleichera oleosa) adalah nama sejenis pohon daerah kering, kerabat rambutan dari suku Sapindaceae. Jadi "Buju' Kosambi" berarti Buyut yang pernah bertapa di bawah Pohon "Kosambi".

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, tahun demi tahun berlalu..... Syahdan tapa beliau ini berlangsung selama 41 tahun. Saat memulai tapa itu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu di hutan. 

Singkat cerita akhirnya Syekh abdul Mannan ("Buju' Kosambi") dibawa ke rumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakatan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdul Mannan  ("Buju' Kosambi") dengan salah seorang putrinya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka. Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana. Dan konon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul Mannan ini.

Dari pernikahan ini, Syekh Abdul Mannan ("Buju' Kosambi") dikaruniai seorang putera yang bernama Taqihul Muqadam, setelah itu menyusul pula putera kedua yang diberi nama Basyaniah. Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan dua orang putera. Jenazahnya dimakamkan di "Batu Ampar" dan terkenal dengan julukan "Buju’ Kosambi". Dan putera pertama beliau juga saat wafat jenazahnya dikebumikan di dekat pusara beliau ("Buju' Kosambi").

Sumber: 
1. Sejarah Auliya' "Batu Ampar". KH. Ach. Fauzy Damanhuri.
2. id.wikipedia.org/wiki/"Kesambi" 
3. Facebook.Photo's.Laely.Widjajati/profile-picture/ 
4. Facebook.Photo's.Laely.Widjajati/ASTANA-BATU-AMPAR-TIMUR/ 

Jumat, 09 Desember 2011

"Istri Pangeran Diponegoro"

"Pangeran Diponegoro", konon katanya  pernah menikahi 8 orang wanita."


Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah menjadi "istri" "Pangeran Diponegoro"


1. "Istri" Pertama: Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta.  

2. "Istri"  Kedua: Pernikahan Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang.  

3. "Istri" Ketiga: Pernikahan Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu "Pangeran Diponegoro" masih berada di Tegalrejo.  

4. "Istri" Keempat: Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 "Pangeran Diponegoro" melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, putri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu istri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun. Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat "Pangeran Diponegoro". Oleh "Pangeran Diponegoro" bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama Singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.

5. "Istri" Kelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika "Pangeran Diponegoro" dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828.  

6. "Istri" Keenam: Pada bulan Januari 1828 "Pangeran Diponegoro" menikahi R.A. Retnaningrum, putri "Pangeran" Penengah atau Dipawiyana II.  

7. "Istri" Ketujuh, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, Bupati Jipang Kepadhangan, dan  

8. "Istri" Kedelapan, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


"Pangeran Diponegoro" adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. "Pangeran Diponegoro" bernama kecil Raden Mas Ontowiryo.




Dalam perjuangannya, "Pangeran Diponegoro" dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen. Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan Belanda.

Setidaknya "Pangeran Diponegoro" mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup  tersebar di  Indonesia, termasuk  Jawa, Sulawesi  &  Maluku.

Referensi:
1. Sejarah Singkat  "Pangeran Diponegoro", Tugas Kewarganegaraan, Oleh: Zulkarnaen  A.(0 8/2 72 79 8/TK/3 45 95).
2.  Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
3. RA. Mangkarawati - Keturunan (Inventaris). 

Sabtu, 15 Oktober 2011

"Silsilah Keluargaku"

"Arti "silsilah" itu bersifat universal, yang artinya orang-orang di seluruh dunia mempunyai "silsilah " keturunannya dan pula, di seluruh benua akan dimaklumi, bahwa semua orang pasti akan mengagungkan leluhurnya."

Kita sering membaca "silsilah" keturunan para raja yang termasuk sejarah atau "silsilah" para penguasa yang memerintah suatu daerah, baik yang ditulis pada prasasti maupun benda lain yang artinya bukan hanya untuk dikenal saja, tetapi untuk diagungkan oleh segenap masyarakatnya, dan dikenang akan jasa-jasanya. (Sumber: Randy Dipa Nalendra).

Berikut ini "silsilah keluargaku" menurut beberapa sumber dari "keluarga" yang mayoritas beliau-beliaunya telah meninggal dunia. "Silsilah keluarga" ini saya tampilkan dalam rangka menjalin silaturrahim "keluarga" yang selama ini telah kehilangan obor. Harapan saya, dengan adanya "silsilah keluarga" ini, akan tersambung kembali tali ikatan (silaturrahim) "keluarga" yang selama ini telah putus karena ketidaktahuan dari kita.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad SAW., beliau bersabda:
'Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung Silaturrahim. Karena sesungguhnya Silaturrahim  adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap "keluarga" (kerabat dekat), (sebab) banyaknya harta dan bertambahnya usia.'

Apabila ada yang merasa termasuk dalam "silsilah" ini dapat menghubungi kami, atau mungkin meralat ataupun bahkan mungkin menyempurnakan "silsilah keluarga" ini, kami menerima dengan lapang dada.
  1. Pangeran Cakraningrat
  2. Panembahan Cakraningrat
  3. Aryo Purwonegoro I
  4. R. Adipati Purwodiningrat
  5. Ratu Kedaton
  6. Hamengkubuwono III
  7. (P.Diponegoro,P.Tjokronegoro,P.Pakunegoro,P.Mertonegoro,BRA.Kartilah,BRA.Beruk)
  8. (Sayed Husin, Moertodjo, Dewi Sekardadu)
  9. (Djosetiko, Pingi, Zaenal, Ekowongso,Ragil)
  10. (K.W.Nasir,K.Karjo,Suwirjo,Samilah,Katiyem,Kamirah,Saido,Atmorejo,Katiyah)
  11. Achmad Ali
  12. (Katiani, M.K.Agus Salim, Sri Suharti, Sutikno)
  13. (Sri Asih, Sudjarwo, Harianta, Laely Widjajati, A.Nurhamdani, M.Hidayat)
  14. (Isa Anja Asmara Bungin, Banda Anja Tamara Bungin)
Untuk Lebih Ringkasnya:
    1. Hamengkubuwono III
    2. P.Mertonegoro
    3. Moertodjo
    4. Djosetiko
    5. Samilah
    6. Achmad Ali
    7. Katiani
    8. Laely Widjajati
    9. (Isa Anja Asmara Bungin, Banda Anja Tamara Bungin)
    10.  
    11.  
    12.  
    13.  
    14.  


    div class='clear'>