Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETIKA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Agustus 2013

"MAKNA SEBUAH HADIAH"

"Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af."


"Hadiah" atau hibah atau kado adalah pemberian uang, barang, jasa dan lain-lain yang dilakukan tanpa ada kompensasi balik seperti yang terjadi dalam perdagangan, walaupun dimungkinkan pemberi "Hadiah" mengharapkan adanya imbal balik, ataupun dalam bentuk nama baik (prestise) atau kekuasaan. Dalam hubungan manusia, tindakan pertukaran "Hadiah" berperan dalam meningkatkan kedekatan sosial.

Istilah "Hadiah" dapat juga dikembangkan untuk menjelaskan apa saja yang membuat orang lain merasa lebih bahagia atau berkurang kesedihannya, terutama sebagai kebaikan, termasuk memaafkan (walaupun orang lain yang diberi tidak baik).

Memahami "Hadiah" sebagai salah satu cara untuk menyatukan hati antara pemberi dan penerima dapat dilihat dalam beberapa riwayat sebagai pedoman, dari perintah memberi "Hadiah", prioritas penerima "Hadiah" dan larangan mengaburkan 
 
Anjuran agar saling mendekatkan hati, saling bersaudara dan mencintai di antara sesama kaum muslimin merupakan salah satu sisi keindahan Islam. Islam mensyari'atkan sarana yang dapat menyebabkan keakraban, mendamaikan dan menghilangkan kabut hati. Di antara sarana itu adalah saling memberikan "Hadiah" di antara sesama muslim."Hadiah" dapat melakukan apa yang tidak dapat dilakukan ucapan dan permintaan ma'af. "Hadiah" mampu menghilangkan kabut hati, memadamkan api permusuhan, menenangkan kemarahan dan melenyapkan rasa iri hati dan kedengkian. "Hadiah" dapat mendatangkan kecintaan dan persahabatan setelah sekian lama tercerai-berai."Hadiah" selalu memberi kesan perdamaian, rasa cinta dan penghargaan dari si pemberi kepada yang diberi. Karena itulah Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar memberi dan menerima"Hadiah" . Beliau menjelaskan pengaruh "Hadiah" di dalam meraih kecintaan dan kasih sayang di antara sesama manusia,


"Saling memberi
"Hadiah"lah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai." (HR. al-Bukhari, al-Adab al-Mufrid)

Beliau juga bersabda,
"Penuhilah undangan orang yang mengundang, janganlah menolak
"Hadiah"..." (HR.Ahmad dan al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrid)

Mengenai hadits ini, Ibn Hibbân mengomentari, "Dalam hadits ini, Nabi SAW mengecam tindakan menolak
"Hadiah" di kalangan sesama muslim. Bila seseorang diberi sebuah "Hadiah", wajib baginya untuk menerimanya dan tidak menolaknya. Saya menganjurkan orang-orang untuk saling mengirim "Hadiah" kepada sesama saudara. Sebab"Hadiah"  dapat melahirkan kecintaan dan menghilangkan rasa dendam."

ANTARA NABI MUHAMMAD SAW DAN "HADIAH".

Nabi Muhammad SAW menerima
"Hadiah" dan tidak menerima sedekah. Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Bila Rasulullah SAW disuguhi makanan, ia selalu bertanya; Apakah ia "Hadiah" atau sedekah.? Jika dijawab, 'Sedekah' maka ia berkata kepada para shahabatnya, 'Makanlah oleh kalian' sementara ia tidak ikut memakannya. Sedangkan bila dijawab, '"Hadiah" maka beliau mencuci tangannya lalu memakannya bersama mereka.'" (Muttafaqun 'alaih)

Hadits lainnya berasal dari 'Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah SAW menerima
"Hadiah" dan mendoakan pahala bagi (pemberi)-nya." (HR. al-Bukhari)

Salah satu jenis
"Hadiah"  yang tidak pernah ditolak Nabi SAW adalah wewangian. Hal ini sebagaimana hadits Anas ra, bahwasanya Nabi SAW tidak pernah menolak wewangian." (HR. al-Bukhari) Beliau,  juga bersabda, "Siapa saja yang di"Hadiah"i 'Raihan', maka janganlah menolaknya sebab ia ringan dibawa namun sedap baunya." (HR.Muslim)

APA YANG DILAKUKAN ORANG ORANG  ANSHAR?

Orang-orang Anshar amat mengetahui betapa hajat Rasulullah SAW dan kesulitan hidup yang dialaminya. Karena itu, mereka selalu mengirimkan
"Hadiah" dan pemberian untuk beliau. Hal ini diceritakan oleh 'Aisyah ra kepada 'Urwah ra bahwa seringkali di rumah Rasulullah SAW tidak dinyalakan api karena tidak memasak. Lalu ketika 'Urwah bertanya apa yang dimakan bila kondisinya demikian. 'Aisyah ra menjawab, "Hanya korma dan air." Kemudian 'Aisyah ra menceritakan bahwa sekalipun demikian, Rasulullah SAW punya tetangga orang-orang Anshar yang selalu mengirimkan "Hadiah", yaitu berupa air susu onta." (Muttafaqun 'alaih)

MEMBERI "HADIAH"  JANGAN DIUKUR NILAI MATERINYA

Anjuran Rasulullah SAW agar saling memberi "Hadiah" walaupun sedikit tidak ditinjau dari sisi nilai materinya tetapi lebih kepada nilai maknawinya sebagaimana yang telah disinggung di atas. Hal ini dapat terlihat dari sabda Rasulullah SAW melalui hadits Abu Hurairah ra bahwa beliau bersabda,
"Wahai para wanita kaum muslimin, janganlah ada seorang tetangga meremehkan pemberian tetangganya yang lain sekali ia (pemberian tersebut) berupa ujung kuku (teracak) unta." (HR.al-Bukhari). Padahal, apalah artinya kuku yang tentunya hanya menyisakan sedikit daging.

Dalam hadits yang lain, Nabi SAW memberikan permisalan menarik yang menunjukkan perlunya sikap tawadlu' (rendah hati) dalam menerima "Hadiah" apa pun,
"Andaikata aku diundang untuk menyantap makanan (yang berupa) bagian hasta atau bagian di bawah tumit, niscaya aku penuhi undangan itu, dan andaikata aku di
"Hadiah"i hal yang sama juga niscaya aku menerimanya." (HR. al-Bukhari)

Bila kita renungkan lebih mendalam, apakah Rasulullah SAW masih membutuhkan makanan dari orang lain? Jawabannya sudah pasti, tidak. Sebab sebagaimana yang kita ketahui bahwa beliau diberi makan dan minum oleh Rabbnya akan tetapi hal itu merupakan pelajaran praktis agar bersikap tawadlu' dan rendah hati terhadap kaum muslimin apa pun kedudukan mereka.

Kehidupan para ulama Salaf juga sarat dengan hal itu di mana mereka saling memberi
"Hadiah", sekecil apa pun bentuknya, terkadang ada yang hanya berupa kurma yang belum matang, ada yang berupa setangkai bunga mawar, ada yang hanya berupa garam yang ditumbuk dan tetumbuhan yang wangi aromanya.

SALING MEMBERI "HADIAH" ANTARA SUAMI-ISTRI

"Hadiah" adalah sesuatu yang mengagumkan, apalagi bila terjadi di antara suami-isteri. Ia dapat menambah rasa kecintaan dan kedekatan hati antara keduanya, memperbarui ruh kehidupan rumah tangga dan menghilangkan perselisihan yang sebelumnya bisa saja akan bertambah meruncing bila kedua pasangan tidak menyadari apa yang dapat menghilangkannya.

Seorang istri lebih mudah tersentuh oleh
"Hadiah" yang diberikan suaminya ketimbang terhadap "Hadiah" orang lain, demikian pula dengan sang suami. Bahkan bila ingin, isteri boleh memberikan sebagian maharnya kepada sang suami asalkan secara sukarela. Allah SWT,
"Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (an-Nisâ`:4)

BEBERAPA HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN

1. Tidak boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan kepada orang lain sebab hal itu sebagaimana makna sebuah hadits sama seperti anjing yang menelan lagi makanan yang telah dimuntahkannya. (Muttafaqun 'alaih).

Akan tetapi, boleh mengambil kembali
"Hadiah" yang telah diberikan karena alasan yang sesuai syari'at seperti curiga bahwa ia berasal dari hasil suap. Contohnya, ash-Sha'b bin Jatstsamah ra pernah memberi "Hadiah" seekor keledai liar kepada Rasulullah SAW ,, ,,namun beliau menolak nya karena ia sedang berpakaian ihram. Demikian pula, bila seorang pegawai yang sudah memiliki gaji diberi "Hadiah", maka ia tidak boleh menerimanya dan ini seperti kasus Ibn al-Lutbiyyah di mana Rasulullah mengecamnya. (Muttafaqun 'alaih)
2. Hendaknya yang lebih diutamakan di dalam memberi "Hadiah" adalah keluarga terdekat; kaum kerabat seperti paman pihak ibu dan ayah dan orang semisal mereka. Demikian juga boleh mendahulukan orang yang di hati seseorang mendapat tempat yang dekat. Imam al-Bukhari mencantumkan bab tentang siapa yang lebih dahulu harus diberi "Hadiah", lalu beliau mengetengahkan dua hadits; yang pertama, beliau menyarankan kepada sang penanya agar diberikan kepada paman dari garis ibunya dan yang ke dua ketika ditanyai kepada beliau mana di antara dua tetangga yang didahulukan dalam memberi "Hadiah", beliau menjawab, "Yang paling dekat pintunya darimu." 

Sumber:
1. bingkaisunnah.blogspot.com/.../arti-sebuah-hadiah.ht...
2. id.wikipedia.org/wiki/Hadiah
3. enizar-stain.blogspot.com/.../pemberipenerima-hadiah....
4. laely-widjajati.blogspot.com/.../wisata-ritual-belanja-d...

Sabtu, 03 Agustus 2013

"ARTI SEBUAH MA'AF"

"Maaf", satu kata yang mungkin mudah bagi setiap orang ucapkan tetapi tidak mudah dilakukan".

Bukannya tidak ingin me"Maaf"kan. Tapi "Maaf" yang benar-benar diutarakan dengan tulus dan "Maaf" yang sekedar diucapkan tanpa beban ketika berbuat kesalahan terasa berbeda.
That's why saya muak pada orang-orang yang selalu bilang
"Maaf"..."Maaf"...dan "Maaf". Toh, diulangi lagi lalu minta "Maaf" lagi. Begitu seterusnya.
Semakin mudah kata
"Maaf" yang keluar, semakin pudar nilai dari arti sebuah "Maaf". Bahkan tak bernilai.

Jika beberapa kesalahan dianggap clear dengan kata
"Maaf" kecenderungan untuk mengulangi tetap ada.
"Gakpapa, yang penting kan udah minta
"Maaf"
"Maaf" ya"
 
"Maaf" ya"
"Maaf" ya"
"Maaf"in aku ya!"

Meminta
"Maaf"lah dengan sungguh-sungguh dan niat yang tulus serta rasa bersalah sehingga tidak ingin mengulangi lagi.
Kesalahan adalah kesalahan. Dimana salah tidak akan menjadi benar dengan kata
"Maaf". Karena "Maaf" hanya sebagai permintaan untuk men-Tolerir kesalahan yang telah diperbuat.

Sumber:
1. anisagumay.blogspot.com/.../arti-sebuah-kata-maaf.ht...
2. pohonsingkong.blogspot.com/.../arti-sebuah-maaf.htm...

Sabtu, 01 Juni 2013

"DIAMNYA ORANG MUKMIN"

"Jika kita berbicara dan menyebabkan kerugian sebesar sebongkah emas, maka "diam" adalah emas".


Sahabatku, "diam"nya "orang mukmin" adalah dzikir, tafakkaur, dan muhasabah, kalaupun bicara, bicaranya santun, mulia dan dakwah, hatinya "husnodzdzon" baik sangka dan doa. Melihat suami istri berjalan, ia doakan semoga rumah tangganya sakinah. Melihat orangtuanya, ia doakan semoga husnul khotimah. Melihat anak-anak,  ia doakan semoga menjadi anak-anak sholeh sholeha...h. Melihat pemimpinnya, ia doakan semoga menjadi pemimpin amanah. Melihat faqir miskin setelah ikhtiarnya menolong, ia doakan semoga Allah hiasi dengan kesabaran dan Allah balas kesabarannya dengan ridha dan surgaNYA. Mendengar dirinya dipergunjing, ia balas dengan doa kasih sayang semoga ALLAH memaafkannya. Melihat yang berbeda dengan keyakinan, ia doakan semoga hidayah ALLAH untuknya. Melihat saudaranya dianiaya di Gaza Palestina, di Afghan dan di Irak, hatinya perih, ia pun maksimalkan jihadnya, dengan doa air matanya di penghujung malamnya. Ya ALLAH tolong lindungi selamatkan saudara-saudara kami, menangkan para mujahidin, muliakan mereka yang wafat sebagai syuhada tanpa ia melupakan mendoakan keberkahan negerinya, sahabatnya, juga sahabat FBnya dan keluarganya...

Sungguh dunia ini menjadi "Taman Surga" bagi hamba yang sungguh-sungguh TAAT, BERDOA dan SELALU BAIK SANGKA...aamiin".

Sumber:
1. K.H.Muhammad.Arifin.Ilham's.Status.Facebook/diamnya-orang-mukmin...
2. Mario.Teguh.Kata.Mutiara/quote-Mario-Teguh...
3. Laely.Widjajati.Facebook.Photoes/Ayo-Jalan2-Dulu-Biar-Sehat.........
4. Hepi.Say.Facebook.Photoes/3-angel...-Menyelesaikan-misi..

Sabtu, 30 Juni 2012

"Kewajiban Berpenampilan Yang Bagus"

"Kita harus senantiasa menyelaraskan diri antara "penampilan" lahir dan "penampilan" batin. Kita diwajibkan untuk selalu memelihara diri kita agar dapat menjadi suri tauladan bagi orang lain".


Islam telah mengajak kaum Muslimin agar selalu bermurah senyum kepada orang, sopan dalam berpakaian, bertindak, bertingkah laku, dan berbuat. Karena dengan seperti itu, kita bisa menjadi suri tauladan yang menjadikan kita layak mengemban risalahnya yang agung bagi manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Handhaliyyah disebutkan bahwa Nabi SAW. pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara-saudara mereka:

"Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai suatu yang buruk". (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim dalam bukunya Al-Mustadrak, dan isnadnya hasan).

Rasulullah SAW. telah mengkategorikan "penampilan" yang kurang "bagus", kondisi yang acak-acakan, mengabaikan "penampilan", dan berpakaian amburadul sebagai suatu hal yang buruk, semuanya itu termasuk hal yang dibenci dan sekaligus dilarang oleh Islam. Jadi kita sebagai umat Islam harus selalu ber"penampilan" "bagus", jelas dan berbeda dalam bentuk dan tingkah lakunya, karena akan memberikan imbas bagi kehidupannya dan kehidupan keluarganya.

Bertolak dari semua itu, sebagai kaum Muslimin, kita tidak boleh mengabaikan dirinya, tidak boleh acuh terhadap "penampilan" yang "bagus" dan bersih di tengah-tengah kesibukan kita dalam keseharian kita, bahkan kita harus selalu menganjurkan untuk senantiasa ber"penampilan"  yang "bagus" dengan tidak berlebih-lebihan. Perhatian pada "penampilan" yang "bagus" itu bersumber dari pemahaman akan kepribadian kita, dan menunjukkan cita rasa dan kecermatan pandangan pada peran kita dalam kehidupan ini, serta menunjukkan benarnya gambaran dirinya terhadap kepribadian sebagai kaum Muslimin yang normal yang tidak memisahkan "penampilan" phisik dan "penampilan" batin. Karena "penampilan" yang bersih, "bagus" dan rapi memuat kandungan-kandungan mulia. Dari kedua "penampilan" itu, lahir dan batin, kaum Muslimin terbentuk.

Kaum Muslimin yang cerdas, akan senantiasa menyelaraskan diri antara "penampilan" lahir dengan "penampilan" batin, dan mengetahui bahwa dirinya terdiri dari tubuh, akal, dan jiwa, sehingga dia akan nenberikan hak masing-masing, dan tidak pilih kasih dalam memberikan perhatian tersebut antara satu dengan lainnya. Penyelarasan itu dilakukan dengan berpegang pada petunjuk Islam yang telah mengajak dan sekaligus menganjurkan untuk melakukan penyelarasan tersebut.

Bagaimana realisasi keselarasan antara tubuh, akal dan jiwanya?

A. TUBUHNYA.
1. Sederhana dalam makan dan minum.
2. Rajin berolahraga.
3. Berbadan dan berpakaian bersih.
4. Penuh perhatian terhadap mulut dan giginya.
5. Selalu merawat keindahan rambut.
6. Berparas menarik.
7. Menghindri Tabarruj dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias.

B. AKALNYA.
1, Melindungi akalnya dengan ilmu.
2. Mempelajari dan menekuni Kitabullah, Al-Qur'an baik bacaan, tajwid maupun penafsirannya. Selanjutnya adalah ilmu hadits, sirah, kisah para sahabat  dan tabi'in.
3. Menguasai dalam berbagai bidang ilmu.
4. Menjauhkan diri dari hal-hal khurafat.
5. Tidak pernh lepas dari membaca dan menelaah.

C. JIWANYA.
1. Tekun beribadah dan membersihkan diri.
2. Memilih teman yang shalih serta senantiasa menghadiri majelis-majelis keimanan.
3. Senantiasa membaca do'a.

Sumber: Jati Diri Wanita Muslimah. Oleh: Dr. Muhammad Ali Al-Hasyimi.

Senin, 21 Mei 2012

"Hukum Ingkar Janji"

“Tanda-tanda munafik ada tiga; apabila berbicara dusta, apabila ber"janji" meng"ingkar"i, dan apabila dipercaya khianat.” (HR. Muslim)



Menepati "janji" adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang tidak menjaga per"janji"annya maka tidak ada agama baginya. Maka seperti itu pula "ingkar janji", termasuk tanda kemunafikan dan bukti atas adanya makar yang jelek serta rusaknya hati.

Seorang mukmin tampil beda dengan munafik. Apabila dia berbicara, jujur ucapannya. Bila telah ber"janji" ia menepatinya, dan jika dipercaya untuk menjaga ucapan, harta, dan hak, maka ia menjaganya. Sesungguhnya menepati "janji" adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. (Lihat Khuthab Mukhtarah, hal. 382-383)

Al-Qur`an sangat memperhatikan masalah "janji" dan memberi dorongan serta memerintahkan untuk menepatinya. Allah SWT. berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 91, yang artinya:
 ا
“Dan tepatilah per"janji"an dengan Allah apabila kamu ber"janji" dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu sesudah meneguhkannya….” 

Allah SWT. juga berfirman dalam Surat Al-Isra' ayat 34, yang artinya:

“Dan penuhilah "janji", sesungguhnya "janji" itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-Isra`: 34)

 Allah SWT. memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa menjaga, memelihara, dan melaksanakan "janji"nya. Hal ini mencakup "janji" seorang hamba kepada Allah SWT., "janji" hamba dengan hamba, dan "janji" atas dirinya sendiri seperti nadzar.

"Ingkar janji" adalah akhlak Iblis dan para munafikin. Seruan ini mungkin bisa didengar, tetapi bagaimana dengan orang yang telah mati hatinya dan dikuasai oleh setan? Apakah mereka mau dan mampu mendengar?

"Ingkar janji" terhadap siapapun tidak dibenarkan agama Islam, meskipun terhadap anak kecil. Jika ini yang terjadi, disadari atau tidak, kita telah mengajarkan kejelekan dan menanamkan pada diri mereka perangai yang tercela.

Abdullah bin Mas’ud ra. berkata:

“Kedustaan tidak dibolehkan baik serius atau main-main, dan tidak boleh salah seorang kalian men"janji"kan anaknya dengan sesuatu lalu tidak menepatinya.” (Shahih Al-Adabul Mufrad no. 300)

Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Al-Baihaqi, menjelaskan, bahwa  Nabi SAW. bersabda (yang artinya): 

“Jagalah enam perkara dari kalian niscaya aku jamin bagi kalian surga; jujurlah bila berbicara, tepatilah jika ber"janji", tunaikanlah apabila kalian diberi amanah, jagalah kemaluan, tundukkanlah pandangan dan tahanlah tangan-tangan kalian (dari sesuatu yang dilarang).

Semua orang tidak akan suka kepada orang yang "ingkar janji". Karenanya, dia akan dijauhi di tengah-tengah masyarakat dan tidak ada nilainya di mata mereka. Allah berfirman dalam Surat Al-Anfal Ayat 55-56, yang artinya:

Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka itu tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil per"janji"an dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati "janji"nya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya).”

Minggu, 22 Januari 2012

"Fungsi Cermin Bagi Rumah Mungil"

"Penggunaan "Cermin" pada "rumah mungil" merupakan cara paling mdah untuk menciptakan kesan lebih luas pada ruang."
Apa saja fungsi "Cermin" bagi "rumah mungil"? Fungsi "Cermin"  yang pertama tentu memperluas ruang. Dengan refleksi ruang di hadapannya, ruang jadi tampak memiliki luas 2 kali lipatnya. Pada ruang yang tertutup, "Cermin" yang dipasang di dinding, meluaskan pandangan dan menghilangkan kesan terkungkung.

Selain merefleksikan benda-benda, "Cermin" juga mampu menggandakan cahaya. Di sudut-sudut ruang yang gelap, "Cermin" dapat ditambahkan supaya cahaya lebih menyebar. Karena seluruh bagian ruang terang, ruang pun terasa lebih lega.

Fungsi berikutmya adalah dekoratif. "Cermin" kini tersedia dalam berbagai jenis dan desain, yang membuatnya serasi dipadukan dengan gaya interior apa pun. Tidak perlu diragukan lagi, "Cermin" merupakan teman setia bagi "rumah mungil"

(Sumber: Majalah Serial "Rumah", edisi 24/11)

"Meletakkan Cermin Yang Tepat"

"Cermin" merupakan material yang khas. "Cermin" mampu merefleksikan benda-benda yang ada di depannya. Tidak hanya benda, ruang yang ada di hadapannya pun dapat digandakannya."


Kemampuannya ini membuat "Cermin" banyak digunakan pada bangunan, terutama pada bangunan yang luasnya terbatas. Di bagian mana "Cermin" sebaiknya di"letak"kan? Pada dasarnya, "Cermin" dapat di"letak"kan di mana saja. Namun supaya fungsi "Cermin" dapat maksimal -- terutama untuk 'memperluas' ruang -- ada lokasi-lokasi strategis untuk me"letak"kan "Cermin".

1. Lorong yang panjang terasa sempit. Pasang "Cermin" pasa sisi panjang dinding supaya lorong tampak lebih lebar.

2. Jika ingin memasukkan lebih banyak lagi ruang luar, pasang "Cermin" pada dinding yang berlawanan dengan jendela. Dengan begitu, ruang akan berkesan seperti dikelilingi jendela dan terhubung dengan ruang luar.

3. Terkadang di rumah terdapat sudut gelap. Tanpa menambahkan lampu, tetapi cukup memasang "Cermin" yang sudutnya diatur supaya merefleksikan cahaya lampu pada plafon, sudut ini akan ikut terang.

(Sumber: Majalah Serial Rumah, edisi 24/11)

Sabtu, 21 Januari 2012

"Etika Buka Tutup Pintu"

"Etika anda memang paling diuji saat berhadapan dengan orang lain. Tampilkan kesan yang baik saat anda berada di tempat umum, terutama pada saat melewati "pintu" umum yang "buka tutup".


Ada beberapa hal yang harus anda lakukan untuk menjaga etika:

1. Berjalanlah di sebelah kanan saat berada di lorong atau tangga. Jalanlah perlahan apabila mendekati belokan, untuk mencegah supaya anda tidak bertabrakan dengan orang yang berjalan dari arah berlawanan.

2. Apabila sedang berjalan bersama-sama orang lain dan akan masuk atau keluar "pintu", segera "buka pintu" lalu lewati. Lebih baik lagi jika anda juga bersedia memegang "pintu"  untuk orang yang berada tepat di belakang anda.

3. Apabila memasuki "pintu" berputar, segera masuk dan tunggu sampai semua rekan sudah masuk, baru melanjutkan berjalan.

4. Sebelum memasuki lift, beri kesempatan untuk orang yang keluar lebih dahulu. Setelah itu baru anda masuk.

5. Apabila anda jadi orang yang terdekat dari control panel dalam lift, tanya dan bantulah orang lain untuk menekan tombol ke lantai tujuan mereka.

6. Tekan tombol open sampai semua orang sudah masuk atau keluar lift dengan baik.

7. Kalau anda melihat orang berlari mengejar lift, berbaik hatilah untuk menjaga "pintu" tetap ter"buka" dan ia tidak ketinggalan.
8. Apabila anda yang mengemudi, jangan lupa "buka"kan "pintu" penumpang sebelum anda masuk. Terlihat kurang sopan kalau anda membiarkan orang menunggu di luar sampai anda mem"buka pintu".

(Sumber: Majalah Cosmopolitan, edisi Juli 2002).

Sabtu, 12 November 2011

"12 Hal Terlarang Di Meja Makan"

"Anda harus tahu hal-hal yang tidak boleh anda lakukan ketika anda "makan", terutama apabila anda "makan" di "meja makan" bersama tamu atau teman maupun keluarga".

Ada 12 hal terlarang ketika anda "makan" bersama di "meja makan":
1. Memilah-milah "makanan" yang tidak anda sukai.

2. Mengendus bau "makanan".

3. Menjilat sisa saus/bumbu di piring "makanan".

4. Menumpahkan garam/merica di mana-mana.

5. Tidak mengkonfirmasi karena sok yakin kenal tuan rumah.

6. Mengambil "makanan" duluan sebelum tuan rumah menyilahkan.

7. Menertawakan orang lain karena table manners-nya salah.

8. Mengambil "makanan" yang anda suka dengan porsi yang besar.

9. Menawarkan sisa "makanan" anda kepada orang lain.

10. Minta tuan rumah untuk membawa "makanan" yang tersisa.

11. Meminta saus/bumbu lain yang memang sedang disiapkan.
12. Tinggal paling lama di "meja makan" padahal tamu lain sudah pergi.

(Sumber: Majalah Cosmopolitan, Edisi Oktober 2003). 

Seorang Arif bijak, Abu Utsman Ammiri, menasihati anaknya:

"Wahai anakku, "makan"lah apa yang ada di hadapanmu. Wahai anakku, biasakan dirimu mengekang nafsu dan syahwat. Jangan menggerogot "makanan" seperti binatang buas, jangan mengunyah seperti kuda dan jangan menelan seperti unta. Sesungguhnya Allah menjadikanmu manusia, maka janganlah kamu menjadikan dirimu seperti binatang".

Sabtu, 29 Oktober 2011

"Agar Anda Selalu Gaya"

"Menurut Emme (seorang model ternama), setiap wanita bisa tampil "gaya". Yang penting kita tahu apa yang harus dihindari."


Agar "anda" selalu "gaya", ikuti tips berikut ini:

1. Jangan tutupi tubuh "anda" dengan baju-baju longgar (kebesaran). Karena akan membuat "anda" tambah besar. Sebaliknya coba kenakan baju yang lebih pas (tetapi tidak ketat). Baik untuk atasan maupun bawahan.

2. Jangan pakai celana yang ketat di bagian perut. Carilah celana yang nyaman di pinggang dan perut. Usahakan terbuat dari bahan yang agak berat. Jatuhnya pasti bagus di kaki.

3. Pakai pakaian dalam seksi. Bila "anda" memilih jas berkancing ganda (double-breasted), sebagai dalaman, pakailah body-suit yang terbuat dari baha katun dan stretch, seperti dari Marl & Spencer. Dijamin "anda" nyaman dan seksi.

4. Pamerkan kaki yang seksi. Bila kaki "anda" panjang, pamerkan dengan memakai rok yang agak pendek.

5. Warna baju harus cocok dengan kulit "anda". Ini akan membuat "anda" tampak lebih ramping dan menarik.

6. Setiap wanita harus punya sheath dress. Gaun panjang lurus hingga mata kaki, dengan belahan di samping. Juga sepasang sepatu berhak tipis yang memanjangkan kaki. Hindari hak tebal.

7. Coba rok lilit. Model membuat tubuh "anda" tampak lebih seimbang dan membuat perut "anda" lebih rata.
(Sumber: Cosmopolitan .It's All About Beauty & Style, Edisi Mei 2002).

Minggu, 16 Oktober 2011

"Pribadi Yang Lebih Menarik"

"Ingin menjadi "pribadi" yang lebih "menarik"? Ada lima langkah supaya anda dapat menjadi "pribadi" yang lebih "menarik".


Lakukan langkah-langkah di bawah ini di akhir pekan agar anda menjadi "pribdi" yang lebih "menarik".

1. Tampil bersih dan wangi. Lakukan olahraga teratur, rajin mandi. gosok gigi, merwat rambut, pakai deodoran, rutin ganti pakaian dalam dan baju, bersihkan kuku kaki dan tangan. Sepele memang. Tapi, coba lihat efeknya nanti. Membuat anda makin bersih dan wangi, teman pasti akan senang mendekati.

2. Jangan asal ikut tren. Tak salah anda jika ingin tampil up to date. Tapi bukan berarti, anda sampai harus jadi korban mode. Yang penting, jangan sampai salah gaya. Sesuaikan dengan ke"pribadi"an. Pilih aneka gaya dan busana. Pilih yang cocok untuk anda.
3. Jadi pendengar yang baik. Teman datang untuk curhat? Sebetulnya, jadi pendengar yang baik bukan semata-mata hanya asal mendengar atau menyediakan telinga. Bikin orang yang bercerita merasa problemnya diperhatikan, dan tahu anda tulus mendengarkan masalahnya. Terkadang, mereka tak butuh solusi, tapi hanya ingin didengar dan diperhatikan.

4. Mata indah, senyum menawan. Mata adalah bagian penting dari wajah, karena jadi jendela hati. Wajah yang selalu berhias senyum, membuat pemiliknya disenangi. Mata yang cantik dan ekspresif, pasti akan membuat anda menjadi orang yang tak terlupakan.  Manfaatkan akhir pekan untuk beristirahat dengan cukup. Agar badan tak lelah, mata indah dan senyum tetap makin menawan.

5. Percaya diri, mudah didekati. Empat poin yang telah disebutkan di atas tak akan ada manfaatnya, jika anda tidak percaya diri. Miliki rasa percaya diri dengan kadar yang tepat, dan jadilah "pribadi" yang mudah didekati. Maka anda tak akan pernah kekurangan teman. Selamat berakhir pekan.

(Sumber: Majalah Cosmopolitan, Edisi September 2003) 

Minggu, 28 Agustus 2011

"Berpolitik Agar Dilirik Atasan"

"Politik" di tempat bekerja ikut menentukan peningkatan karier anda. Maka dari itu, anda perlu menentukan sikap dan menciptakan kesan dan citra diri yang bagus di depan orang lain, terutama "atasan" anda."


Yang perlu anda lakukan adalah membekali diri dengan perencanaan-perencanaan yang dapat mengembangkan karier anda, yang anda dapatkan dari penangkapan-penangkapan di sekeliling anda, seperti atmosfer kantor, jenis hubungan dengan "atasan", tipe karyawan apa yang mudah diterima di mana-mana, sampai tipe karyawan yang mudah mendapat promosi.
Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan supaya dilirik "atasan":

1. Jangan ragu-ragu untuk menginformasikan keberhasilan anda kepada "atasan" dengan cara-cara yang wajar dan tidak pamer.

2. Jadilah pendukung "atasan" dalam setiap kesempatan. Misalnya, dalam rapat-rapat, anda dapat mendukung pendapat-pendapat "atasan" anda. Namun jangan asal membeo, karena itu sebaiknya anda mencoba mengembangkan pendapat "atasan" lebih jauh lagi dan mengungkapkan hal-hal baru sebagai tambahan. Apabila anda tidak sependapat dengan "atasan" anda, sebelum mengungkapkan pendapat anda, sebaiknya anda mengawalinya dengan perhatian anda pada pendapat "atasan" anda.

3. Tampilkan diri anda sebagai si serba bisa yang dapat diandalkan setiap kali "atasan" menunjuk anda.

Kalau ketiga hal di atas tidak dapat anda terapkan dengan benar, anda dapat dicap 'carmuk' (cari muka) alias penjilat kepada "atasan". Namun apabila anda dapat melakukannya secara taktis dan mengembangkannya dengan tujuan yang baik, dibarengi dengan kemampuan mewujudkan hasil kerja yang maksimal, maka jalan karier anda pun dapat lancar.



Kamis, 04 Agustus 2011

"Harga Diri Tinggi"

"Harga diri" seseorang ditentukan oleh beberapa aspek, diantaranya adalah karena kualitasnya dan seberapa banyak orang menyebut kebaikan orang tersebut (branding)."


Orang tua yang menginginkan anak-anaknya mempunyai "harga diri" yang "tinggi", berdasarkan aspek kualitas, maka kita dapat melakukan beberapa hal berikut ini:

1. Mendorong anak untuk mendapat pengalaman untuk berprestasi. Pengalaman ini akan memunculkan perasaan bahwa mereka berkualitas dan ber"harga". Dengan dua perasaan inilah maka secara otomatis "harga diri" anak juga naik.

2. Beberapa anak memang mempunyai bakat berprestasi, tetapi banyak anak yang tidak. Karenanya orang tua dapat memperluas sebaran prestasi. Berprestasi tidak selalu akademis, seperti tanggung jawab anak, kejujuran, kemandirian dan rela menolong.

3. Setiap anak mempunyai keunikan sendiri. Orang tua akan lebih mudah untuk memberi kesempatan untuk berprestasi apabila ia mampu menemukan keunikan putra-putrinya.

4. Meng"harga"i setiap kemajuan yang ditunjukkan anak sebagai sebuah prestasi. Seorang anak yang hari ini lebih khusyuk sholatnya merupakan prestasi yang dapat di"harga"i oleh orang tua.


Sedangkan orang tua yang menginginkan anak-anaknya mempunyai "harga diri tinggi" berdasarkan aspek branding, maka kita dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut:

1. Memberikan label-label positif kepada anak dan menghindari yang negatif.
Seorang anak yang mendapat label bertanggung-jawab, mungkin pada mulanya tidak pernahmenganggap begitu. Tetapi seiring dengan semakin seringnya ia mendapatkan label positif tersebut, maka pikiran bawah sadarnya mulai meyakini dirinya adalah pribadi bertanggung-jawab.

2. Fokus kepada kelebihan, bukan kekurangan.
Semua anak mempunyai kekurangan sebagaimana mereka juga mempunyai kelebihan. Beberapa anak mempunyai "harga diri tinggi" karena orang tua mereka selalu memusatkan perhatian pada kelebihan anaknya.
3. Membuat catatan peng"harga"an.
Buatlah catatan peng"harga"an, caranya setiap anggota keluarga secara teratur menulis pernyataan yang saling memberikan dorongan.

4. Merayakan keberhasilan bersama.
Anak yang mendapatkan prestasi dan dirayakan bersama keluarga dapat mendorongnya merasa lebih diterima oleh keluarga.


Mengapa seorang anak perlu mempunyai "harga diri tinggi"?  Beberapa kajian berikut ini dapat memotivasi kita sebagai orang tua untuk meningkatkan "harga diri" putra-putri kita, diantaranya:

1. Mereka akan menetapkan standart "tinggi" bagi "diri"nya, karena percaya karena mereka memang layak mendapatkan yang terbaik di dalam hidupnya. Mereka menginginkan nilai terbaik, sekolah baik, hasil baik dan bersungguh-sungguh mendapatkan yang diinginkan.

2. Mereka berani berprestasi dan melakukan uji coba.

3. Mereka cenderung tidak mudah terpengaruh teman karena ia mempunyai keyakinan "diri" kuat. Ia berani berkata tidak bila diajak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai mereka.

4. Mereka bukanlah pribadi sensitif dan defensif saat mendapatkan masukan dan kritikan.

Apabila kita menaikkan "harga" barang untuk mendapatkan keuntungan lebih dalam penjualan, maka kita menaikkan "harga diri" anak untuk meraih kesuksesan lebih dalam kehidupan mereka.

(Sumber: Belajar membuat Skala "Harga Diri", oleh Miftahul Jinan, Majalah Al-Falah, Edisi 280, Juli 2011).
div class='clear'>